Kepulangan ayah
Di
pagi hari surya mulai membuka tabirnya, deruan angin menghiasi alam di desa Bayu
pagi itu, langit yang tadinya masih gelap perlahan-lahan mulai bewarna
kekuning-kuningan menandakan matahari telah muncul dari ufuk timur. Hamparan
padi yang hijau melukiskan betapa indahnya suasana desa di di tempat bayu
tinggal. Ibu bayu yang saat itu tengah asyik membut sarapan nasi goreng
dicampur potongan tomat kecil, atau orang di desa Bayu menyebutnya gerinjan.
Aroma nasi goreng yang di buat ibu Bayu sampai ke kamar Bayu
. Hal itu membuat
mata Bayu pelan-pelan mulai berkedip karena selain mencium aroma nasi goreng
kesukaannya, ia dibangunkan oleh sinar surya yang memang sudah terang memasuki
celah-celah lubang dari dinding papan kamarnya. Bayu segera bangun lalu
menghampiri ibunya. “bu ,,ibu lagi masak nasi goreng ya ?”, iya bai ibu lagi masak nasi goreng kesukaan
kamu, emm kamu mandi dulu sana, ibu akan menyiapkan piring sama air minum dulu,
nanti setelah kamu selasai mandi kita sarapa sama-sama. Bayu yang dari tadi
masih menggosok-gosok matanya, segera beranjak dari tempat ibunya menuju kamar
mandi.
Bayu memang termasuk anak yang
penurut, suka menolong orang tua, baik hati dan sangat rajin dalam belajar walaupun
saat itu usianya baru 6 tahun dan belum sekolah tapi ia sangat pandai membaca. Berkat
ibunya yang memang selalu mengajarkan membaca kepada Bayu, jadi tidak heran
kalau anak seusia Bayu kecil sangat di senangi oleh teman-temannya dan juga tetangganya.
Tak lama kemudian Bayu keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamarnya
untuk berganti pakaian lalu langsung segera mendekati meja makan. Ibu Bayu yang
sudah sejak tadi menunggu Bayu egera menyodorkan sepiring nasi goreng ditambah
kerupuk ubi yang dibeli dari warung wak aceng yang tidak jauh dari rumah Bayu.
“ bay sebelum makan ayo kita berdoa dulu, kamu sudah hafal bukan denga do’a
makan yang dulu ibu ajarkan? “sudah bu” jawab Bayu. Nah sekarang kamu pimpin doa
ya Bay, siap bu “ jawab Bayu dengan muka tersenyum. “ Allahhumma bariklana,
fima rozaktana wakina azzabannar amin. Lancar sekali Bayu membanca doa makan,
maklum ibu Bayu telah sering kali mngajarkannya kepada bayu.
Bukan main lahapnya Bayu makan nasi
goreng buatan ibunya, sampai-sampai 2 kali nambah saking lapar dan memang doyan
nasi goreng. Masih asyik makan kedua anak-beranak ini, tiba-tiba terdengar sua
derap langkah seseorang yang sudah tidak asing lagi di mata nak beranak ini.
Ternyata Pak Tuki tidak lain adalah Ayah Bayu datang, langsung saja Bayu
memeluk ayahnya karena kerinduan yang amat dalam, maklum sudah seminggu tak
bersua. Namu berbeda dengan bu minten ibu Bayu, ia memalingkan muka dan segera masuk kekamar setelah melihat ayah
Bayu datang karena setelah mendengar cerita dari abang sepupunya yaitu pak jono
mengenai kelakuan Pak Tuki dikota yang berani main dengan wanita lain yang
bukan istrinya. Hal ini di sadari pak tuki dan segera melepaskan pelukan manja
anaknya lalu menyodorkan mainan mobil-mobilan untuk Bayu. Sontak saja Bayu
kegirangan, “ terima kasih ya ayah, ayah telah membelikan Bayu mobil-mobilan
kesukaan Bayu. Iya nak sama- sama. Kamu main diluar sana, ayah mau menyusl
ibumu. Bayu yang memang maih belum mengerti persoalan yang dihadapi orang
tuanya segera beranjak keluar. Pak tuki segera menyusul istrinya yang sejak
tadi berada dikamar. Beliau bertanya pada istinya, “dek minten abang sudah
pulang koq tidak sambut sih, kamu tidak kangen ya sama abang ?” pak tuki masih
dengan muka manis dan berlagak polos, seolah-olah tidak berbuat apa-apa. Bu
minten yang dari tadi menahan muka gram segera bertanya kepada suaminya dengan
nada suara yang agak tinggi, “ bang, kenapa abang baru pulang sampai seminggu,
bukankah abang berjanji hanya tiga hari di kota, sebenarnya apa yang abang
lakukan di kota ? pertanyaan beruntun disodorkan bu minten kepada suaminya itu.
“ oh itu yang membuat dek minten jadi tidak senang melihat abang pulang, dek
kebetulan bos yang biasa mengambil pakis yang abang bawa tidak datang tepat
waktu, jadi abang terpaksa menunggu” dengan muka yang agak pucat pak tuki
memberi alasan seakan-akan dia tidak mempunyai kesalahan terhadap istrinya.
Namun bu minten yang sudah mengetahui kelakuan suaminya tidak tahan lagi untuk
berpura-pura tidak tahu. “ bang tolong abang jujur pada ku sebenartnya abang
lama dikota karena ada main dengan perempuan lain, abang selingkuh kan?”,
mendengar uicapan istrinya muka pak tuki langsung berubah merah karena tak
pernah iya menyangka kalau istrinya bisa mengetahui kelakuan busuknya, pak tuki
hanya bisa diam. “ kenapa abang diam, benar bukan apa yang aku katakan ? ”.
dari mana dek minten mendengar cerita itu, abangb tak pernah melakukannya,
jangan cepat percaya sama kabar burung dek. “ sudahlah bang mengaku saja,bang
jono yang menceritakan ini semua pada, bahkan teman abang juga pernah melihat
kalau abang lagi menggandeng wanita lain dikota. Pak tuki terdiam kaku,dalam
hatinya (sialan si jono berani-beraninya
dia cerita sama istri ku, kali ini habislah aku )maafkan abang dek, awqlnya
abang hanya iseng-iseng saja, tapi pada akhirnya abagn beneran jatuh cinta sama
wanita itu, dan kami diam-diam telah menikah sekarang wanita itu sudah hamil 3
bulan maknya abang lam dikota, sekali lagi maafkan abang dek. “ PLAAAAKKKKKKKK
....tamparan keras bu minten jatuh di pipi kanan pak jono”. Pukulah sesuka dek
minten asal adek mau memaafkan abang. “ (dengan suara keras bu minten menjawab)
tidak...aku tak kuat menerima pengkhianatan abang,( dengan terisak tangis)
tolong ceraikan aku bang, tolong abang segera pergi dari rumah ini, terserah
abang mau pergi kemana karena rumah ini adalah peninggalan orang tua ku jadi
abang harus pergi secepatnya meninggalkan rumah ini.” De minten tolonglah pikirkan
lagi bagaimana dengan Bayu kalau dia tak punya ayah? Lobih baik Bayu tak punya
ayah dari pada harus hidup dengan ayanh yang tega menyakiti hatinya dan hati
ibunya. Baiklah dek kalau itu maumu, tapi ingat sekali kau menyuruh ku pergi dari
rumah ini jangan harap aku kan datang lagi, dan dengan ini kau monten binti
rahmat ku ceraikan dengan talak tiga. Dengan tegas bu minten membalas” memang
itu yang ku harapkan, cepat kemaskan barangmu dan pergilah tanpa dilihat Bayu.
Dengan cepat kilat pak jono
mengemaskan barangnya. Seketika itu juga dia pergi tanpa berkata apa-apa kepada
mantan istrinya. Pak jono meninggalkan rumah dengan muka merah bekas tamparan
dari istrinya. Memang itu pantas di terima pak jono karena kelakuan hinanya. Ia
pergi menuju kota kembali menemui wanita selingkuhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar