Senin, 17 Juni 2013

Bayu Si Anak Pakis (bagian 2)

Kepulangan ayah
Di pagi hari surya mulai membuka tabirnya, deruan angin menghiasi alam di desa Bayu pagi itu, langit yang tadinya masih gelap perlahan-lahan mulai bewarna kekuning-kuningan menandakan matahari telah muncul dari ufuk timur. Hamparan padi yang hijau melukiskan betapa indahnya suasana desa di di tempat bayu tinggal. Ibu bayu yang saat itu tengah asyik membut sarapan nasi goreng dicampur potongan tomat kecil, atau orang di desa Bayu menyebutnya gerinjan. Aroma nasi goreng yang di buat ibu Bayu sampai ke kamar Bayu
. Hal itu membuat mata Bayu pelan-pelan mulai berkedip karena selain mencium aroma nasi goreng kesukaannya, ia dibangunkan oleh sinar surya yang memang sudah terang memasuki celah-celah lubang dari dinding papan kamarnya. Bayu segera bangun lalu menghampiri ibunya. “bu ,,ibu lagi masak nasi goreng ya ?”,  iya bai ibu lagi masak nasi goreng kesukaan kamu, emm kamu mandi dulu sana, ibu akan menyiapkan piring sama air minum dulu, nanti setelah kamu selasai mandi kita sarapa sama-sama. Bayu yang dari tadi masih menggosok-gosok matanya, segera beranjak dari tempat ibunya menuju kamar mandi.
            Bayu memang termasuk anak yang penurut, suka menolong orang tua, baik hati dan sangat rajin dalam belajar walaupun saat itu usianya baru 6 tahun dan belum sekolah tapi ia sangat pandai membaca. Berkat ibunya yang memang selalu mengajarkan membaca kepada Bayu, jadi tidak heran kalau anak seusia Bayu kecil sangat di senangi oleh teman-temannya dan juga tetangganya. Tak lama kemudian Bayu keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian lalu langsung segera mendekati meja makan. Ibu Bayu yang sudah sejak tadi menunggu Bayu egera menyodorkan sepiring nasi goreng ditambah kerupuk ubi yang dibeli dari warung wak aceng yang tidak jauh dari rumah Bayu. “ bay sebelum makan ayo kita berdoa dulu, kamu sudah hafal bukan denga do’a makan yang dulu ibu ajarkan? “sudah bu” jawab Bayu. Nah sekarang kamu pimpin doa ya Bay, siap bu “ jawab Bayu dengan muka tersenyum. “ Allahhumma bariklana, fima rozaktana wakina azzabannar amin. Lancar sekali Bayu membanca doa makan, maklum ibu Bayu telah sering kali mngajarkannya kepada bayu.
            Bukan main lahapnya Bayu makan nasi goreng buatan ibunya, sampai-sampai 2 kali nambah saking lapar dan memang doyan nasi goreng. Masih asyik makan kedua anak-beranak ini, tiba-tiba terdengar sua derap langkah seseorang yang sudah tidak asing lagi di mata nak beranak ini. Ternyata Pak Tuki tidak lain adalah Ayah Bayu datang, langsung saja Bayu memeluk ayahnya karena kerinduan yang amat dalam, maklum sudah seminggu tak bersua. Namu berbeda dengan bu minten ibu Bayu, ia memalingkan muka  dan segera masuk kekamar setelah melihat ayah Bayu datang karena setelah mendengar cerita dari abang sepupunya yaitu pak jono mengenai kelakuan Pak Tuki dikota yang berani main dengan wanita lain yang bukan istrinya. Hal ini di sadari pak tuki dan segera melepaskan pelukan manja anaknya lalu menyodorkan mainan mobil-mobilan untuk Bayu. Sontak saja Bayu kegirangan, “ terima kasih ya ayah, ayah telah membelikan Bayu mobil-mobilan kesukaan Bayu. Iya nak sama- sama. Kamu main diluar sana, ayah mau menyusl ibumu. Bayu yang memang maih belum mengerti persoalan yang dihadapi orang tuanya segera beranjak keluar. Pak tuki segera menyusul istrinya yang sejak tadi berada dikamar. Beliau bertanya pada istinya, “dek minten abang sudah pulang koq tidak sambut sih, kamu tidak kangen ya sama abang ?” pak tuki masih dengan muka manis dan berlagak polos, seolah-olah tidak berbuat apa-apa. Bu minten yang dari tadi menahan muka gram segera bertanya kepada suaminya dengan nada suara yang agak tinggi, “ bang, kenapa abang baru pulang sampai seminggu, bukankah abang berjanji hanya tiga hari di kota, sebenarnya apa yang abang lakukan di kota ? pertanyaan beruntun disodorkan bu minten kepada suaminya itu. “ oh itu yang membuat dek minten jadi tidak senang melihat abang pulang, dek kebetulan bos yang biasa mengambil pakis yang abang bawa tidak datang tepat waktu, jadi abang terpaksa menunggu” dengan muka yang agak pucat pak tuki memberi alasan seakan-akan dia tidak mempunyai kesalahan terhadap istrinya. Namun bu minten yang sudah mengetahui kelakuan suaminya tidak tahan lagi untuk berpura-pura tidak tahu. “ bang tolong abang jujur pada ku sebenartnya abang lama dikota karena ada main dengan perempuan lain, abang selingkuh kan?”, mendengar uicapan istrinya muka pak tuki langsung berubah merah karena tak pernah iya menyangka kalau istrinya bisa mengetahui kelakuan busuknya, pak tuki hanya bisa diam. “ kenapa abang diam, benar bukan apa yang aku katakan ? ”. dari mana dek minten mendengar cerita itu, abangb tak pernah melakukannya, jangan cepat percaya sama kabar burung dek. “ sudahlah bang mengaku saja,bang jono yang menceritakan ini semua pada, bahkan teman abang juga pernah melihat kalau abang lagi menggandeng wanita lain dikota. Pak tuki terdiam kaku,dalam hatinya (sialan si jono        berani-beraninya dia cerita sama istri ku, kali ini habislah aku )maafkan abang dek, awqlnya abang hanya iseng-iseng saja, tapi pada akhirnya abagn beneran jatuh cinta sama wanita itu, dan kami diam-diam telah menikah sekarang wanita itu sudah hamil 3 bulan maknya abang lam dikota, sekali lagi maafkan abang dek. “ PLAAAAKKKKKKKK ....tamparan keras bu minten jatuh di pipi kanan pak jono”. Pukulah sesuka dek minten asal adek mau memaafkan abang. “ (dengan suara keras bu minten menjawab) tidak...aku tak kuat menerima pengkhianatan abang,( dengan terisak tangis) tolong ceraikan aku bang, tolong abang segera pergi dari rumah ini, terserah abang mau pergi kemana karena rumah ini adalah peninggalan orang tua ku jadi abang harus pergi secepatnya meninggalkan rumah ini.” De minten tolonglah pikirkan lagi bagaimana dengan Bayu kalau dia tak punya ayah? Lobih baik Bayu tak punya ayah dari pada harus hidup dengan ayanh yang tega menyakiti hatinya dan hati ibunya. Baiklah dek kalau itu maumu, tapi ingat sekali kau menyuruh ku pergi dari rumah ini jangan harap aku kan datang lagi, dan dengan ini kau monten binti rahmat ku ceraikan dengan talak tiga. Dengan tegas bu minten membalas” memang itu yang ku harapkan, cepat kemaskan barangmu dan pergilah tanpa dilihat Bayu.

            Dengan cepat kilat pak jono mengemaskan barangnya. Seketika itu juga dia pergi tanpa berkata apa-apa kepada mantan istrinya. Pak jono meninggalkan rumah dengan muka merah bekas tamparan dari istrinya. Memang itu pantas di terima pak jono karena kelakuan hinanya. Ia pergi menuju kota kembali menemui wanita selingkuhannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar