Dua tahun telah berlalu, hari demi hari dijalani Bayu
dan ibunya dengan penuh perjuangan dan kebahagiaan. Bayu yang sudah terbiasa
hidup tanpa seorang ayah kini tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sangat rajin membantu ibunya. Walaupun dia anak laki-laki tapi ia cukup cekatan membantu
ibunya di dapur.selain membantu ibunya, mencari pakis adalah rutinitas Bayu,
tidak ada belukar yang tak pernah ia jelajahi, tak ada anak sungai yang tak
pernah ia datangi. Semua tempat yang ditumbuhi pakis sudah ia taklukan. Bersama
sahabatnya Sono, Boby dan Gian ia selalu mencari sayur tanpa tuan di manapun
ada tanda-tanda kehidupannya. Keemapat sahabat ini memang sangat akrab dan
selalu saling membantu jika ada diantara mereka yang sedang dalam kesusahan.
Boby yang juga masih saudara sepupu Bayu tidak lain adalah anaknya pak Jono
omnya Bayu. Sementara Sono dan Gian adalah tetangga Bayu. Mereka masih
sama-sama duduk di kelas empat sekolah dasar.
Kebetulan hari ini adalah hari
minggu. Biasanya Bayu bangun agak pagi, soalnya usai shalat subuh bersama
ibunya Bayu kembali tidur. Namun hari ini agak berbeda usai shalat subuh Bayu
tidak kembali tidur melainkan langsung mandi. Ibunya menjadi heran melihat
anaknya mandi sepagi ini. “lho bay koq kamu pagi sekali mandinya, emangnya mau
kemana?”, eh ibu, Bayu sudah janji sama Boby, sono dan Gian kalau pagi ini kami
mau pergi mancing ke sungai diperbatasan desa keta dengan desa sebelah, kata
ayah gian yang sudah pernah mancing di situ ikannya banyak bu, apalagi ikan
gabus, katanya besar-besar, kan lumayan kalau nanti siang kita bisa di buat
lauk soalnya Bayu udah lama tidak makan gabus bu. Oh ya ibu setuju kan kalau
bayu pergi dengan teman-teman Bayu ? atau ibu mau ikut mancing sama kita ?”, Bayu
menggoda ibunya. Ah kamu bay ada-ada saja, ya sudah kamu boleh pergi sama
teman-teman mu, tapi hati-hati di jalan bay, soalnya disana banyak pohon salak,
ibu takut nanti kamu kena duri-durinya, kalau bisa kamu ambil jalan biar agak
jauh, jalan kebunnya om jono di sana tidak ada poho salak, jadi ibu bisa tenang
dirumah. (ibunya memberi saran). “ baiklah bu nanti Bayu akan ajak teman-teman
Bayu untuk jalan kebunya om jono.
Sambil menunggu teman-temannya menjemput, Bayu asyik
menyiapkan tali pancing dan tempat ikannya yang akan Bayu bawa untuk memancing,
tidak lupa sebotol air minum juga ikut
dibawa agar tidak kehausan selama dalam perjalanan atau saat memancing
nanti. Tidak lama Bayu menunggu teman-teman Bayu sudah memangil, “
Bayu..Bayu..Bayu..” telah kedengaran oleh Bayu. “ah itu pasti suara Sono, iya
son tunggu bentar aku lagi masukan air minum dalam kantong. Bayu hafal betul
suara teman-temanya baik Sono, Boby maupun Gian. Bayu pun keluar dengan segala
perlengkapan memancingnya. Hai teman-teman ayo kita berangkat sekarang, let’s
go jawab teman-temannya serempak. Sebelum pergi Bayu tak lupa selalu berpamitan
dan bersalaman dengan ibunya, “Bu Bayu pergi dulu ya doakan Bayu supa bisa
dapat ikan bayak hari ini, kata pak salman
guru Bayu, doa ibu biasanya cepat di kabulkan oleh Allah. Iya bay ibu
selalu mendoakanmu nak, hati-hati dijalannya, ingat jangan sampai pulangnya
telad, kalau bisa sebelum makan siang biar ibu bisa masak hasil
pancinganmu,heheeee (ibu Bayu menggoda). “ok siap bu... Bayu pergi ya
bu..assalamualaikum. iya waalaikumsalam.
Bayu dan teman-temannya beranjak
meningglkan rumah Bayu, sambil menyanyi dengan riang gembira.teman teman nanti
kita jalan kebun ayahmu saja ya Son? Bayu menyampaikan ide. “ wah jalan itu kan
jauh bay bisa-bisa 1 jam kita baru sampai di sungai tempat kita akan memancing,
kita jalan pintas saja gimana ? sambung Boby, “jalan yang bayak pohon salak
maksudmu ? kata Gian. Iya jalan itu lebih dekat palingan 20 menit udah samapai,
jawab Boby. “ tapi bahaya teman-teman, kata ibuku disitu salaknya sudah
besar-besar jadi durinya pasti bayak, aku takut nanti ada diantara kita yang
tertusuk duri salak, bisa-bisa rencana memancing kita bisa gagal, bayu mencoba
menjelaskan. Gian langsung menjawab “ benar juga kata bayu nenekku dulu juga
pernah bilang kalau jalan kebun salak itu bahaya, selain takut tetusuk duri
salak, juga ada orang bilang kalau di kebun itu banyak ular besar, kita ikut
saran bayu saja. Sono cepat menengahi perdebatan kecil dari teman-temannya “ ya
sudah kita jalan kebun ayahn ku saja selain aman, jalan itu juga lumanyan besih
karena setiap minggu ayahku selalu membersihkannya. “baiklah kalau begitu aku
ikut kalian saja, imbas boby yang dari tadi ngotot mau jalan kebun salak.
Akhirya keempat sahabat itu memasuki jalan kebun ayah sono. Selama dalam
perjalanan mereka selalu berbincang-bincang, hal apa saja yang mereka
bincang-bincangkan mulai dari berapa banyak ikan yang akan mereka dapatkan
ketika memancing nanti, menceritakan tentang sekolah dan bayak lagi hal lainya,
hingga ta terasa mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka memancing. “wah teman-teman
kita telah sampai di sungai, coba kalian perhatikan air sungai, sangat
bergelombang karena banyak ikan yang meloncat-loncat” kata bayu. “ iya bay, ayo
kita pasang umpan sekarang, kata Boby, Sono dan Gian serempak. Tanpa belama-lam lagi keempat ank ini segera
memasang umpan dan menancapkan mata pancingnya ke air sungai. “ wah teman-teman
coba kalian lihat pohon besar yang ada di tepi sungai itu (bayu menunjuk kearah
pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, yang berjarak kira-kira 50
meter)”. Memangnya kenapa dengan pohon besar itu bay ? tanya boby. “
kelihatannya disan airnya cukup beriak, pasti banyak ikannya di sana ! jelas
bayu. “ ah kamu aja yang kesana bay, aku disini aja, jawab boby. Baiklah aku
kesana ya !. iya jawab teman-temannya serempak. Bayu pun beranjak dari
tempatnya dan langsung mendekati pohon itu, tak lam mempersiapkan pancing bayu
langsung menancapkan mata pancingnya ke sungai tepat dibawah pohon. Hanya
berselang 1 menit setelah bayu melempar mata pancingnya ternyata benang pancingnya
sudah menengang dan tertarik kedalam air sampai-sampai hampir masuk air juga
joran yang di pegang bayu, (wah ini past ikannya beasar) bisik bayu dalam hati,
bayu tidak langsung menarik joran pancingnya, ia menunggu sebentar sampai mata
pancingnya benar-benar sudah di lahap ikan yang masih ada di air. Sampai
beberapa saat kemudian, bayu menarik dengan keras jorannya, tidak
tanggung-tanggung lagi ikan gabus besar menyangkut di mata pancing bayu, bayu
berteriak kegirangan. Suara bayu di dengar teman-temannya diseberang sana. “
wah bayu kamu sudah dapat ikan ?” teriak Gian, iya tu tampaknya ikan yang
didapat bayu sangat besar, sambung sono. Boby yang dari tadi sibuk
memperhatikan joran pancingnya yang juga sedang ditarik-tarik ikan tidak
memperdulikan temannya yang sedang berteriak melihat ikan bayu yang besar. Siutttt...boby menyembat pancingnya
dan ternyata ia juga mendapat seekor ikan gabus yang cukup besar, namun tidak
lebih besar dari ikan gabus yang di dapat bayu. Gian dan sono yang berdiri
disamping boby terkejut melihat boby juga mendapat seekor ikan gabus, “ wah
kalian hebat bisa dapat ikan gabus yang besar, kapan giliran kita ni Son ?”,
Gian merilik Sono. “ sabar aja Gian palingan bentar lagi kalian juga dapat
ikan”, jawab boby yang lagi sibuk melepas ikan di mata pancingnya. “ Boby benar,
kita harus sabar dan tidak boleh dengki dengan apa yag dimiliki orang lain,
terlebih lagi teman kita, terang sono kepada Gian. “iya son kamu benar,
sekarang ayo kita lanjutkan mancingnya, imbuh Gian. Keempat anak ini kembali
fokus dengan pancingnya masing-masing. Tak lama menunggu tenyata pancing Sono
disusul Boby ditarik-tarik ikan, ternyata mereka juga mendapatkan ikan gabus
yang besar-besar, bukan main girangnya anak ini mendapatkan ikan yang sudah
lama mereka tunggu-tunggu. Keberuntungan ini disusul oleh teman temannya yang
lain, hingga pada akhirnya mereka banyak mendapatkan ikan gabus di dalam
keranjang ikannya masing-masing. Tak terasa waktu sudah menjelang siang waktu
itu kira-kira pukul 11.30 siang, keempat anak ini segera mengakhiri acara
memancingnya karena harus pulang kerumah, terlebih lagi bayu yang sudah di
pesan sama ibunya untuk tidak pulang terlalu siang. Karena khawatir akan ibunya
yang sedang menunggu dirumah, bayu segera mengajak teman-temannya pulang lalu
disetujui oleh teman-temannya.
Dalam perjalanan pulang mereka
merasa gembera karena telah mendapatkan bayak ikan namun juga merasa sangat
kecape’ankarena telah setengah harian memancing. “teman-teman berapa lama lagi kita
berjalan, rasanya aku sudah letih sekali” kata sono. Iya nih aku juga, mana air
minum bekal kita sudah habis diminum ketika memancing tadi, rasanya tak kuat
lagi aku berjalan”, sambung Boby. “Gimana kalau kita ambil jalan pintas saja
?”, gian menyampaikan ide. “Jalan pohon salak maksud mu, ah aku tak berani”
sanggah bayu. “Kita udahkepepet bay, bukannya ibumu menyuruh kalu kamu tidak
pulang terlalu siang bukan, kalau kita ambil jalan salak sebelum jam 12 kita
sudah sampai rumah, tapi kalau kita jalan kebunya ayah sono bisa-bisa jam 12.30
kita baru sampai rumah dan pasti ibumu sudah tidak sempat lagi memasak ikan
hasil memancingmu. Iya bay Gian benar, sudahlahlah kita jalan salak saja,
intinya kita harus hati-hati biar tak tertusuk duri salak. “ hemmmb...baiklah
kalau itu ide kalian, ayo kita jalan sekarang ?”, ajak bayu.
Merekapun memasuki jalan salak
dengan merunduk karena batang salaknya juga masih banyak yang rendah jadi harus
hati-hati biar tidak sampai tertusuk oleh duri salak yang terkenal sangat tajam
tersebut. Boby yang berjalan di bagian paling depan, Sono dibelakang Boby, Gian
menyusul belakang Sono dan bayu berjalan di bagian paling belakang. Baru
sekitar 5 menit mereka berjalan tiba-tiba ada bunyi di semak-semak daun salak
tua yang sudah jatuh ke tanah, namun keempat anak ini tidak begitu
memperdulikan bunyi terseut, mereka haya mengira seekor kodok yang lagi mencari
makan. Ternyata itu bukan seekor kodok melainkan seekor ular hitam yang cukup
panjang dengan cepat meranyap menghampiri keempat ank tersebut...shuuuttt...
gigi ular tersebut menancap di kaki bayu tepatnya di betis sebelah kanan bayu.
Teman-teman bayu yang tidak sadar akan bayu yang digigit ular tidak
memperhatikan bayu yang berjalan dibagian belakang, hingga pada akhirnya mereka
mendengar suara jeritan bayu yang kesakitan karena telah digigit seekor ular hitam
yang panjang. Semetara ular tersebut sudah pergi jauh. “aduhhh.... kakiku
sakit,,tolong aku teman-teman”. Teman-teman bayu terkejut mendengar rintihan
bayu yang sdang kesakiatan, “kenapa dengan kakimu bay? Boby panik. “Aku digigit
ular hitam panjang,lihat itu ularnya sudah berlari jauh”. Walau sudah jauh
namun ular itu masih terlihat oleh ketiga teman bayu. “Wah sialan ular itu,
biar ku lempar dia pake duri salk ini, berani-beraninya menggigit bayu”, umpat
Sono kesal. “Sudah teman-teman sebaiknya kita tolong bayu biar rancun dari
gigitan ular tesebut tidak menyebar ke seluruh tubuh bayu” Gian menenangkan.
“Sebaiknya apa yang harus kita lakukan, lihat betis bayu ulai biru?”, kata
boby. “kita harus mengikat kuat dengan tali atau kain betis bayu yang dekat
dengan bekas gigitan ularnya sebelum racun ular tersebut menyebar, ayo cepat
kita lakukan !” perintah Gian. Sono segera mengambil tali rafia yang dibawaya
sejak dari rumah dan langsung mengikat betis bayu dekat gigitan ular, dengan
sigap sono selesai mengikatnya, nah teman-teman sebaiknya sekarang kita cepat
pulang agar bayu segera diobati. Bayu yang sejak tadi mengerang kesakitan hanya
mengikut saja tanpa berbicara apa-apa karena sangat menahan sakitnya digigit
ular.
Bayu tak mampu berjalan sendiri
sehingga harus dipapah oleh sono dan boby, sementara gian membawa keranjang
ikan bayu yang di kaitkan di pundaknya. Sudah cukup lama berjalan akhirnya
mereka sampai juga di rumah bayu dan langsung memanggil ibu bayu. “
ibu..ibu..kami pulang bu. Ibu bayu yang sedang beradadi dapur segera keluar
menemui anak-anak., betapa terkejutnya ibu bayu ketika melihat ank semata
wayangnya segdang menangis menahan sakit serta lagi dipapah oleh teman-temannya.
“kenapa dengan bayu ? apa yang terjadi padanya ?, ibu bayu panik melihat
anaknya. Gian dengan gemetaran menjawab “begini bu tadi bayu diggit ular ketika
kami melewati kebun salak”. “ kan ibu sudah bilang jangan lewat kebun salak,
kenapa kalian masih lewat situ? bayu yang sejak tadi kesakitan akhirnya
bersuara, “ maafkan bayu bu dan teman-teman bu, kami ingin cepat sampai kerumah
agar ibu bisa masak ikan dari hasil pancingan bayu, jadi kami mengambil jalan
pintas”bayu berusaha menjelaskan, “iya bu maafkan kami juga karena telah
mengajak bayu mengambil jalan itu yang akhirnya bayu digigit ular” sono dan
teman-teman minta maaf. Ya sudah ibu sekarang mengerti, sekarang kalian pulang
saja pasti ibu kalian khawatir kalau kalian terlambat pulng, bayu biar ibu yang
mengurus, terima kasih ya kalian sudah menolong bayu selama bayu digigt ular”.
Iya bu sama-sama, jawab sono dan teman-teman serempak oh ya bu ini ikan yang
didapat bayu selama memancing (gian menyerahkan keranjang ikan bayu kepada ibu
bayu.
Masih
dalam muka panik ibu bayu segera mengajak bayu masuk ke dalam rumah dan segera
memberi bayu obat berupa daun-daunan yang dipercaya bisa menetralkan racun.
sementara menunggu kedatangan pak mantri dari puskesmas yang di minta ibu bayu
untuk datang mengobati bayu. Bayu yang sedang mengerang kesakitan terlihat
mukanya pucat, matanya semakin sendu dan tangannya dingin. Hal ini membuat ibu
bayu semakin panik sampai-sampai tangannya juga ikutan dingin. Setelah beberapa
lama menunggu pak mantri yang di panggil untuk mengobati bayu puyn tiba di
kediaman bayu. “ slamat siang bu, saya dengar ada yang dgigit ular, apakah anak
ibu ini ?” pak mantri menoleh kearah bayu yang sedang kesakitan. “oh iya pak,
ini bayu nak saya tolong segera diperiksa pak karena saya takut sekali melihat
keadaan bayu sekarang”. Iya bu, tolong ibu tenang dulu jangan panik seperti
itu, biarkan saya memeriksa bayu. Pak mantri segera memeriksa denyut jantung
bayu, lalu kemudian memberi suntikan kepada bayu. “maaf bu ini daunan apa yang
ibu berikan kepada luka gigitan dikaki bayu ? pak mantri bertanya kepada ibu
bayu. “ oh itu daun kalimaok dan daun sirsak muda, kata orang orang bisa
menetralkan racun dalam tubuh orang yang digigit ular”, ibu bayu menjelaskan.
Pak mantri hanya mengganguk pelan, “oh begitu”.
Setelah
agak lama memeriksa bayu serta membersihkan luka lalu membalut kaki bayu yang
terkena gigitan ular, pak mantri memberikan sejumlah obat yang harus diminum
bayu kepada ibu bayu. “ bu keadaan
bayusudah tidak terlalu buruk, untung ibu cepat memanggil saya, oh ya bu ini
obat-obatan yang harus diberikan kepada bayu, cukup diberikan 3 kali sehari
setelah makan dan jangan sampai kelupaan memberikannya ya bu”. “ iya pak terima
kasih, oh ya berpa yang harus saya bayar pak”, bu bayu bertanya kepada pak
mantri. “ tidak usah bu, kan warga didesa ini semuanya punya askes kan, jadi
biaya pengobatan gratis. Pak mantri menjelaskan. “ iya pak kami memang punya
askes, terima kasih ya pak atas kebakannya mau datang ke rumah kami”. “ jangan
berterimakasih bukwerena itu memang tugas saya untuk mengobati pasien yang
sedang membutuhkan pertolongan.
Setelah
mengongobol agak lama dengan ibu bayu pak mantri pun pamt untuk kembali ke
puskesmas. “ bu sekarang saya mau pamit undur diri karena kakerna harus
kembalinke puskesmas”. oh begitu, terima kasih bayak pak, hati-hatidi jalan. “
iya bu sama-sama. Setalah mengantar pak mantri ke depan pintu ibu bayu kembali
menmani bayu yang sejak tadi sudah terlelap dalam tidurnya, mungkin karena
diberi obat tidur olkeh pak mantri
sehingga membuat bayu tenang dan tidak kesakitan. Dalam tidur bayu ia bermimpi
bertemu ayahnya, ketika itu ia dan ayahnya sedang bermain mobil-mobilan yang
belikan ayahnya sebelum pergi meninggalkan rumah karena telah menceraikan
ibunya. Tidak hanya berm,ain mbil-mobilan bayu juga bermain petak umpet bersama
ayah dan ibunya yang pernah ia lakukan lakukan dulu selagi ayahnya masih
tinggal bersama, entah apalagi yang ada dalam mimpi bayu, sehingga ibunya yang
memperhatikan tidur bayu menjadi heran melihat bayu yang sedang tersenyum dalam
tidurnya. Ibu bayu mengelus-elus rambut bayu yang basah oleh keringat karena
tadi menahan sangit yang teramat sangat. Sementar bayu masih melanglang buana
dalam mimpi indahnya saat bermain petak umpet berasama kedua orang tuanya,
dalam bermain itu ayah bayu tiba-tiba menghilang dan tidak ketemu-ketemu walau
sudah dipanggil bayu berkali-kali. Bayu yang hanya merasa memanggil ayahnya di
dalam mimpi ternyata suaranya terdengar di alam nyata, ibu bayu terkejut
mendengar bayu yang tiba-tiba memanggil nama ayah. Bayu yang tadinya terlelap
akhirnya bangun dari tidur dan mimpinya. Ibu bayu yang terkejut langsung
bertanya pada anaknya yang sudah membuka mata, “bay kamu mimpi ya, apa yang
kamu mimpikan sampa-sampai kamu memngigau memanggil ayah?”, “iya bu tadi bayu
mimpi kalau kita bertiga bayu, ibu dan ayah sedang bermain petak umpet. Tapi
sedang asyik main tiba-tiba ayah mengilang, bayu telah memanggilnya
berkali-kali namun tidak ada sahutan dari ayah”, bayu menceritakan mimpinya. “oh
itu ternyata yang membuatmu mengigau memanggil ayah mu, sudahlah nak kamu harus
bangun dari mimpimu itu, ayah mu sudah tak bersama kita lagi sekarang haya ada
bayu dan ibu, bayu ibu sangat sayang sama bayu makanya bayu harus cepat sembuh
ya? Iya bu maafkan bayui karena telah membuat ibu mengkhawatirkan bayu, bayu
juga sangat sayang sama ibu, bayu janji akan selalu menuruti kata-kata ibu dan
tak akan pernah melawan ibu karena kata pak samlman surga itu di bawah telapak
kaki ibu, bayu juga janji suatu saat bayu akan berhasil dan membuat ibu bangga
dengan bayu”. Dengat penuh kehangatan dan kasih sayang ibu bayu memeluk ank
semata wayahnya dengan erat seakan tak pernah bisa dipisahkan walau bencana
besar datang sekalipun kedua anak-beranak ini saling menyatu padu bagaikan laut
dan pantai yang salaing menyatu.
Sudah
dua hari bayu berada dirumah dan tidak masuk sekolah karena keadaanya yang
tidak memungkinkan untuk datang ke sekolah, bayu hanyamenitip surat kepada sono
temannya. Namun pagi ini bayu sudah tampak sehat, luka di betis bekas gigitan
ular juga sudah membaik berkat obat yang
diberikan oleh pak mantri yang sangat mujarab. Selain itu ibunya juga selalu
mendoakan kesembuhan bayu kepada Allah SWT Tuhan yang maha menyembuhkan.
Kemungkinan besok bayu sudah bisa masuk sekolah kembali, karena bayu ingin
cepat-cepat datang ke sekolah dan kembali belajar bersama teman-temannya.
Maklum bayu sudah sangat btidak betah hanya berdiam diri dirumah, selama ia
sakit ia ia hanya membaca buku karena takut ketinggalan pelajaran dari
teman-temanya. Bayu adalah anak yang sanagt cerdas dan berbakat, dari kelas 1
sampai kelas 3 ia selalu mendapat rangking 1 tiap semester, hal ini tentu saja
membuat ibinya bangga. Selain itu aia juga merupakan muid kesanyangan para guru
karena selain otaknya yang cerdas ia juga dikenal memiliki budi pekerti yang
luhur dan sangat terampil bermain musik gitar. Hal ini membuat teman-teman bayu
sangat menyukainya. Byu mulai belajar gitar sejak ayahnya masih tinggal
bersamanya, sampai saat ini gitar yang dipakai bayu masih tetap awet dan bagus,
karena selalu di bersihkan bayu.
Bayu
yang cerdas di sekolah juga sangat rajin di rumah dan suka menolong ibunya baik
menolong di dapur juga menolong ibunya mencari pakis yang tumbuh bebas di
belukar. Pakis yang di ambil lalu diikat-ikat dan dijual kepada masyarakat.
Itulah yang dapat memenuhi kebutuhan pokok bayu dan ibunya. Namun bila musim
panas panjang tiba pakis tidak tumbuh subuh dan otomatis penghasilan bayu dan ibunya juga berkurang.
Tidak jarang ibu bayu berhutang di warung wak aceng apabila memang tidak ada
uang sedeikitpun untuk makan. Bayu sangat mengerti kondisi keuangan ibunya yang
sangat memprihatinkan, sebab semenjak ayahnya sudah tidak tinggal bersamnya ibu
bayu sendiri yang membanting tulang mencari nafkah untuk kebutuhan makan dan
sekolah bayu. Sejak ayahnya pergi tidak ada sepeser uangpun diterima bayu
sebagai anak, meskipun menurut agama seorang ayah berkewajiban memenuhi
kebutuhan anaknya sekalipun sudah berpisah atau bercerai dengan istrinya.
Ayahnya juga tak pernah mengunjungi bayu walau sekalipun selama ia pergi
meninggalkan rumah. Bayu yang sudah terbiasa hidup tanpa seorang ayah sangat
tegar menjalani hidup, meski mainan tak
pernah ia dapatkan lagi, karena ibunya tak mampu membelikannya untuk bayu. Kini
hidup bayu sangatlah bergantung pada si pakis yang tak bisadiperkirakan akan
terus tumbuh atau tidak di belukar. Sebenarnya ibu bayu sangat ingin bercocok
tanam padi, namun apa daya tak ada lahan, mau menyewa tak punya uang jadi
terpaksa hanya mengandalkan ketersediaan pakis. Semakin hari bayu semakin
tumbuh besar dan cerdas. Tak terasa sekarang bayu sudah duduk dikelas 4 SD
teluk keramat. Bayu tak pernah berubah ia masih suka membantu ibunya dan tak
pernah melawan perintah ibunya, beruntung benar bu minten mempunyai anak
laki-laki seperti bayu.
Hari
ini bayu berangkat lebih awal karena mendapat jadwal piket kelas. Bayu
berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Maklum ia tyidak memiliki sepeda,
namun sesekali ia ditumpangi oleh sono yang memiliki sepeda. Namun bayu juga
tidak mau selalu menumpang di sepeda sono karena ia lebih suka jalan kaki,
katanya biar lebih sehat. Pagi ini bayu
tidak berangkat sendirian karena ada Susi anaknya wak aceng yang punya warung
juga berangkat sekolah jalan kaki. Biasanya rahma naik sepeda namun hari ini ia
jalan kaki sehingga yang biasanya bayu yang jalan ke sekolah sendirian kini
jadi punya teman. “ lho Susi kenapa kamu jalan kaki, biasanyakan kamu naik
sepeda, memangnya man sepeda kamu?”, tanya bayu. “ iya ni bay aku jalan kaki,
sepedaku rusak saat pulang sekolah kemaren”, jelas susi. Wah rusak kenapa susi,
rusaknya kemaren kenapa belom dibetulkan?, “saat pulang sekolah sepedaku
tiba-tiba remnya putus, padahal waktu ku simpan di parkir remnya masih
baik-baik saja dan ayahku belom sempat betulkan karena sibuk di warung”. Aneh
sekali ya sus, jangan-jangan ada yang sengaja rusakkan soalnya sepertinya
kurang masuk akal kalau tiba-tiba rusak. “iya sih bay, sebenanya bukannya mau
menuduh sembarangan, tapi ada teman aku dewi bilang kalau tono anak kelas 5 dan
teman-temannya sempat mndeati sepedaku, dan seperti jongkok-jongkok
mengelilingi sepedaku, soalnya yang ku tahu Tono itukan anaknya memang nakal”,
jelas susi. Begitunya ? kenapa tidak kau tanyakan sama Tono?, “ wah... mana ku
beranai bay, salah-salah nanti aku dipukulnya”. Baiklah kalau begitu nanti biar
aku dan sono yang akan menanyakannya langsung sama tono biar kita tidak salah
sangka lagi, dan kalau memang benar dia pelakunya biar di laporkan pada kepala
sekoalah, biar dianjera dan tidak mengganggu anak-anak lainnya. “ kamu tidak
takut bay? dia kan tukang pukul dan sering di hukum oleh dewan guru karena
ulahnya yang nakal itu”. Kenapa harus takut sus, aku cuma bermaksud
menanyakannya dan kamu tenang saja aku tidak akan berantem kok sama dia. “ iya
tapi hati-hati ya bay, ayo kita berjalan lagi rasanya juga cukup menyenangkan
kalau sesekali jalan kaki seperti ini”. Iya dong kamu harus sering-sering jalan
kaki biar sehat seperti aku, hehehe...., canda bayu.
Dalam
perjalanan mereka beryanyi-nyayi dengan lagu yang riang gembira seperti lagu
potong bebek angsa, tukang bakso, tukang becak dan lagu lainnya. Tak terasa
berjalan mereka pun sampai di sekolah yang di tuju dengan sselamat. Bayu yang
merasa dirinya piket kelas langsung masuk kelas lalu mengambil sapu dan segera
mealukan tugasnya. Sebenarnya maih ada 3 lagi teman bayu yang punya jadwal
piket yang sama, namun tampaknya belum ada yang datang sebelum bayu bayu hanya
menyapu kelas sendirian. Bayu yang sudah sekitar separuh menyapu kelas akhirnya
selang bebarapa saat datanglah tedi, yulian dan sari yaitu teman piket bayu
yang datangnya agak belakanga dari bayu. “ wah kamu sudah datang duluan bay,
kami kira kami yang paling duluan datang” sapa yulian. Iya aku juga belum
terlalu lama datang, aku sengaja datang lebih pagi karena hari ini ada jadwal
piket, soalnya takut telat berhubung aku jalan kaki ke sekolah” kata bayu.”oh
begitu maafkan kami ya bay, karena kami datangnya agak terlambat walaupun kami
naik sepeda, jadinya kamu piket sediri duluan” kata yulian. Oh tidak apa-apa,
ayo kita piket sekarang. “ayo!, jawab ketiga teman bayu serempak. Keemapat
teman ini melaksanakan tugas mereka masing-masing ada yang menyapu, mengelap
meja guru, mnyiram beberapa pot bunga yang ada di dalam kelas dan yang ada di
depan kelas, dana da yang membersihkan papan tulis. Meeka mengerjakan tugas
mereka dengan hati yang riang gembira dan tak terasa perkerjaan merekapun
selasai dengan hasil yang bagus. Kelas yang tadinya berdebu dan kotor, sekarang
menjadi bersih. Bunga yang tadinya kekeringan, kini tampak lebih segar karena
telah di siram sari yang mendapat tugas menyiram bunga.
Ting...ting...ting bel tanda masuk berbunyi semua siswa
berkumpul di depan kelasnya masing-masing untuk berbaris, lalu di susul dengan
bersalaman dengan guru yang akan masuk kekelasnya yang telah menunggu depan
pintu. Memang di sekolah bayu sudah di biasakan sejak awal kalau budaya
bersalaman sebelum masuk dan akan pulang selalu di lakukan agar siswa dapat
terbiasa dengan kebiasaan baik tersebut. Sementara dikelas bayu guru yang akan
masuk adalah pak Rahmat guru Seni Budaya
dan Keterampilan (SBK) di sekolah bayu.
Pak rahmat cukup dekat dengan semua murid-muridnya, tak terkecuali dengan bayu,
Dalam beberapa minggu terakhir ini, bayu sering bersama dengan pak rahmat baik
di jam pelajaran maupun diluar jam pelajaran karena satu minggu yang akan
datang bayu akan mengikuti perlombaan aransemen lagu anak dengan alat musik
gitar akustik tingkat provinsi se-Kalimantan Barat. Jadi pak rahmat bayak
membimbing dan melatih bayu untuk mempersiapkannya mengikuti lomba tersebut.
Bayu terpilih tidak hanya mewakili sekolahnya melainkan juga mewakili kecamatan
untuk mengikuti lomba tersebut bersama beberapa orang siswa sd dari kecamatan
lainnya. Jadi tidak heran kalau bayu cukup di sibukkan dengan latihan gitar dan
aransemen lagu anak beberapa minggu ini.
Jam
pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa keluar kelas dan langsung pulang
kerumah. Namun tidak begitu dengan bayu ia harus menemui pak rahmat untuk
latihan musik. Pak rahmat yang memang sejak tadi menunggu bayu di ruang musik,
sambil menyetel gitar yang akan di pakai bayu untuk latihan. Tak lama kemudian
bayu yang di tunggu akhirnya datang. Bayu memberi salam kepada guru musiknya
itu, “assalamualaikum pak”, waalaikumsalam eh... bayu ayo masuk. Bayu yang
tadinya berdiri di depan pintu akhirnya masuk dan segera mendekati pak rahmat.
“ nah bayu tinggal seminggu lagi kamu akan mengikuti lomba di pontianak ibu
kotanya kal-bar, kamu harus latiha dengan giat, jaga selalu kesehatanmu, dan
jangan lupa selalu berdoa agar kamu diberikan kemenangan dalam lomab nanti”,
pak rahmat memberikan nasihatnya kepada bayu. “iya pak bayu janji akan semakin
rajin latihan agar bisa menang, bayu tidak mau mengecewakan bapak sebagai
pelatih bayu, juga bayu ingin membawa nama baik sekolah kita di tingkat provinsi”,
kata bayu dengan penuh semangat. “nah bapak senang mendengar semangatmu bay,
sekarang ayo kamu mulai maikan lagu yang sudah kamu mainkan sebelumnya, nanti
kalau ada yang kurang bapak akan memberikana masukan. “ iya pak, jawab bayu.
Sudah
2 jam latihan akhirnya pak rahmat meminta bayu agar berhenti untuk latihan
karena permainan bayu juga sudah semakin bagus, “bay bapak rasa cukup disini
dulu latihan kita untuk hari ini, bapak lihat permainan kamu juga sudah semakin
membaik, kalau terus seperti ini sampai hari perlombaannya bapak punya
keyakinan kamu bisa menang” puji pak rahmat kepada bayu, iya pak amin, bayu
juga berharap demikian, oh ya pak bayu pamit pulang dulu pasti ibu sudah
menunggu bayu di rumah soalnya tadi waktu mau berangkat sekolah bayu lupa kasi
tahu ibu kalau bayu ada latihan musik bersama bapak, “ oh iya bay cepat sama
kmau pulang, ibumu pasti khawatir karena kamu jam segini belum pulang”, timbal
pak rahmat. Iya pak, assalamualaikum.....waalaikumsalam, balas pak rahmat
|
B
|
ayu
beranjak meninggalkan sekolah dan kembali berjalan kaki menuju jalan yang
mengarah ke rumahnya. Siang itu cuaca sangat panas dan lumayan menyengat
tulang. Bayu yang hanya mengenakan
seragam sekolah dengan kemeja yang pendek tampak begitu kepanasan dan tentu
saja membuat tubuhnya yang putih bercucuran keringat dari dahi dan lengannya.
Bayu memang memilki kulit yang putih, rambut halus lurus dan hidung yang
mancung bangir, mungkin keelokan wajah yang dimilikinya adalah turunan dari
ibunya yang memang cantik dan putih, hanya ayah bayu saja yang menyia-nyiakan
keelokan tersebut. Setelah cukup lama berjalan akhirnya sampai juga bayu ke
rumahnya yang sederhana itu. Memang benar dugaan bayu, ibunya dari jauh sudah
tampak duduk di ambang pintu menantikan kedatangan bayu dari sekolah, ibunya
juga tampak menoleh ke kiri ke kanan untuk mendapatkan banyangan dari sosok
bayu yaitu anak sekaligus teman hidup yanmg sangat di sanyangi nya itu. Bayu
yang dari jauh sudah melihat ibunya yang sedang menunggu kedatanganya segera
berlari cepat menghampiri wanita yang duduk di ambang pintu itu, “
assalamualaikum ibu bayu pulang, ibu sedang menunggu bayu ya ?” salam dan sapa
bayu, eh bayu waalaikumsalam... iya ibu sedang menunggu kamu dari tadi,
memangnya kamu kemana bay jam segini baru pulang ? bukannya biasa kamu pulang
jam 11.30, ini sudah jam 13.40 apa yang kamu lakukan membuat ibu khawatir saja”
bu bayu tampak panik. Iya bu maafan bayu sebnarnya tadi jam 11 bayu sudah
pulang, tapi setelah pulang bayu langsung latihan musik bersama pak rahmat,
sebelum berangkat sekolah bayu lupa mau kasih tahu ibu kalau bayu pulangnya
agak telad, sekali lagi maafkan bayu ya bu. “ oh begitu rupanya, lain kali kamu
harus beritahu ibu terlebih dahulu kalau pulang sekolah harus telad biar ibu
tidak khawatir di rumah, oh ya kamu latihan musik untuk ikut lomba itu lagi
bay? Tanya ibu bayu. Iya bu perlombaannya kan brlangsung minggu depan, jadi
nanti bayu akan pergi ke potianak bersama pak rahmat guru bayu untuk mengikuti
lomba tersebut, ibu tidak apa-apa kan kalau bayu tinggal sendirian dirumah?
Tanya bayu, “ oh tidak apa-apa bay, ibu berdoa semoga kamu bisa menang di
perlombaan musik nanti, berapa lama kamu disana bay?”.. tidak lana kog bu cuma
2 hari, bayu dan pak rahmat berangkatnya naik bis, dan disana kita akan
menginap di hotel, kayak tempat orang-orang kaya menginap bu hehehe... kata pak
rahmat begitu bu”, gurau bayu. Ibu bayu yang sejak tadi mendengarkan celoteh
bayu hanya tetawa kecil melihat gelagat anaknya yang bercerita dengan semangat,
“iya deh semoga saja nanti disana kamu bisa
senang dan bisa memberikan penampilan terbaik kamu bay, kamu bisa
mewakili sekolah dan provinsi saja ibu sudah bangga sama kamu, apalagi kalau
kamu bisa menan ibu pasti makin tambah bangga, tapi kamu harus rajin latihan
dan berdoa kepada Allah agar kamu bisa di berikan hasil yang terbaik” nasihat
ibu bayu, aminnnn...sambung bayu.
|
S
|
etiap
hari bayu selalu manghabiskan waktunya untuk belajar, membantu ibunya, dan
rajin latihan musik demi menggikuti perlombaan tersebut. Bayu yang tak pernah
mengeluh akan kondisi keluarganya yang seang dalam kesempitan uang, malah ia
selalu menyempatkan diri mengambil sayur tak brtuan di belukar. Sayur pakis
memang sayur yang tak ad pemilik nya, sebab ia bisa tumbuh tanpa ditanam dan
dirawat oleh manusia, ia mampu bersahabat dengan alam karena alamlah yang
memeliharanya, sementara manusia hanya bisa mengambil hasilnya saja. Hari ini
sepulang sekolah bayutidak ada latihan musik, karena berhubung pak rahmat sdang
mengikuti rapat dewan guruyang di adakan oleh dinas kabupaten jadi bayu bisa
pulang lansung kerumah seelah jam pelajaran usai. Bayu dan ibunya berencana
untuk mengambil pakis bersama. Cuaca di siang itu tidak seperti biasanya yang
panas terik mencapai suhu 35o celsius, tapi matahari tampak diselimuti
awan yang berarak mendung dan adanya tanda-tanda mau hujan. Hal ini adalah
kesempatan baik buat bayu dan ibunya untuk bisa mengambil pakis, karena jika
kondisi cuaca seperti ini aka sangat baik untuk mengambil pakis agar tidak
panas juga tidak hujan. Ibu bayu yang sajak tadi sudah berkemas menyiapkan
segala perlengkapan untuk mencari pakis seperti ragak untu menampung, tali
rafia untuk mengikat pakis dan bekal air minum untuk mereka jika sedang
kehausan selama mencari pakis. Selesai menyiapkan segala perlengkapan bayu dan
ibunya segera berangkat menuju bulukar tempat pakis tumbuh. Mereka berjalan
kaki untuk dapat pergi kesana. Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam
untuk dapat sampai ke tempat tersebut. Dalam perjalanan bayu asyik bercerita dengan
ibunya. Banyak hal yang mereka ceritakan mulai dari masa kecil bayu hingga.
Bayu yang banyak bertanya pada ibunya bagaimana ia waktu kecil yang sangat
membuat orang lain merasa senang apabia bayu kecil baru belajar bicara karena
selain kata-katanya yang belum jelas, juga bayu kecil termasuk anak yang sehat
dan sangat suka bermain mobil-mobilan. Mendengar mobil-mobilan bayu teringat
ayahnya yang dulu sering membelikannya mobilan. Namun ia juga tidak mau
mengingat-ingat kembali hal tersebut karena akan menyakiti hati ibunya,
mengingat perlakuan ayahnya yang tega mengkhianati cinta suci ibunya. Walau
masih kecil, tapi bayu sangat mengerti
perasaan ibunya maka dari pada itu bayu tak mau bertanya yang macam-macam
mengenai ayahnya kepada ibunya.
Susdah beberapa lama berjalan tidaka
terasa temapt mereka akan mengambil pakis sudah tidak terlalu jauh, hanya
sekitar 200 meter dari tempat mereka berdiri. Jelas sudah terdengar nyayian
burung punyuh yang berterbangan melintasi anak sungai dan membuat sarang di semak-semak
juga di padang pakis yang menghampar luas. Angin yang bertiup sepoi-sepoi
membawa keteduhan jiwa dan kedamaian yang mungkin belum didapat di
tempatlainnya. Disinilah bayu dan ibunya mengais rezeki menggali nikmat Tuhan
yang telah di tebarkan oleh malaikatNya bagi hamba yang rajin berusaha dan tak
mengenal lelah maupun menyerah untuk selalu mensyukuri rahmat yang telah Allah
berikan. Tak jarang ibu bayu menangis dikala menikmati keindahan alam yang
telah Allah ciptakan, walau dari mata manusia hanyalah belukar yang tak terawat
dan tak terpelihara, namun didalamnnya terdapat rezeki yang bayak dan tak
mungkin dapat dihitung oleh akal manusia jumlah rezeki yang telah Allah
limpahkan. Tangisan ibu bayu bukanlah sebuah ratapan akan nasib yang mereka alami,
melainkan ratapam rasa syukur karena diberikan karunia yang tak ada hentinya.
Mensyukuri hal sederhana adalah bagian dari rasa syukur kita kepada Allah,
begitulah yang sering ibu bayu katakan kepada mutiara hatinya, belahan jianya
itu.
Berjalan selama setengah jam lebih
tak membuat bayu dan ibunya merasa keletihan. Melaikan semangat yang semakin
besar ketika melihat tumbuhan pakis yang menghijau di padang belukar kala itu.
Tanpa membuang waktu bayu dan ibunya segara memulai aksinya untuk memeti satu
persatu tangkai pakis muda. Bayu yang memang sudah cekatan mengambil pakis
ternyata kecepatannya menyamai ibunya. Walau masih kecil bayu mampu memetik
pakis seperti layaknya orang tua yang sudah berpengalaman. Yah memang itulah
bayu, ia dibentuk untuk jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab atas
dirinya. Inilah yang membuat ibunya selalu bangga pada bayu. Meski memiliki
anak yang cejkatan mengambil pakis dan rajin membantu ibunya menjual pakis,
namun bukan itu cita-cita ibu bayu. Ia ingin bayu berhasil menjadi manusia, ia
ingin bayu sekolah setnggi-tinnginya dan bisa menjadi sarjana, agar kelak dia
dewasa dapat bermanfaat bagi orang banyak. Semoga keinginan wanita yang
memiliki hati bersih ini dapat terwujud untuk menjadikan bayu sarjana, aminnn.
Bayu
Berangkat ke Pontianak Untuk Mengikuti Perlombaan
Hari-hari
berlalu, bayu semakin mantap dengan keampuan bermain musiknya. Berkat bimbingan
pak rahmat guru SBK sekaligus tutor musik bayu, membuat anak yang dijuliki
teman-temannya anak pakis karena keuletannya mencari pakis ini, akhirnya
semakin memiliki rasa prcaya diri yang tinggi namun itu tidaklah menjadikan
bayu sombong, melainkan semakin ramah dan sopan terhadap guru dan
teman-temannya. Hanya menunggu 24 jam lagi bayu akan berangkat ke pontianak
untuk mengikuti perlombaan yang telah dinanti-nantikannya itu. Tak seperti
hari-hari biasanya dimana bayu selalu mengisi waktunya dengan latihan bersama
tutor dan gitarnya, namun satu hari sebelum menjelang keberangkatan bayu tidak
melakukan latiha bersama pak rahmat lagi, karena bayu di sarankan oleh pak
rahmat untuk beristirahat saja, agar esok ketika berangkat kondisi bayu bisa
tampil fresh dan bersemangat. Kesempatan ini di manfaatkan bayu untuk take rest
dan mengemas pakaian yang akan di bawanya besok. Dalam mengemas pakaian bayu di
bantu ibunya dalam memilih pakaian mana yang akan di bawa esok hari. “bay
berapa banyak pakaian yang akan kamu bawa biar ibu yang memasukannya dalam tas
?” tanya ibu bayu. Tidak bayak bu, pak rahmat menyuruh bayu untuk membawa
pakaian seperlunya saja agar tidak kewalahan membawanya, kata bayu. “
begitukah, baiklah kalau begitu kamu cukup membawa 3 pasang baju saja, ditambah
1 pasang lagi dengan pakaian yang kamu pakai untuk berangkat esok pagi” kata
ibu bayu. Baiklah bu, besok bayu mau pakai kemeja biru yang ibu belikan waktu
lebaran idulfitri kamaren, “iya” jawab ibunya.
Pagi menjelang, matahari yang elok
mulai membuka tabirnya, burung layang kini kembali kesarangnya. Bayu yang seja
azan subuh sudah bangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat wajib bagi umat
islam bessama tidurnya, sudah tidak tidak tidur lagi karena takut kesiangan.
Bayu berjanji dengan pak rahmat untuk bertemu di sekolah jam tujuh pagi.
Sekarang jarum jam sudah berdenteng di angka 06.30. pagi ini ibu bayu akan
mengantar bayu ke sekolah untuk memnemui pak rahmat, ibunya sengaja mengantar
kepergian bayu karena akan tidak berjumpa selama dua hari. Pemandangan sekolah
seperti biasanya, siswa belum masuk kelas karena jam juga belum menunjukan
pukul tujuh, bayu datang lebih awal untuk menemui pak rahmat bersama ibunya.
Pak rahamt yang sejak tadi juga sudah menunggu bayu di ruang guru dengan
membawa gitar disampingnya. Bayu memberi salam kepada pak rahmat,
“assalamualaikum pak”, oh waalaikumsalam, wah kamu ganteng pakai kmeja biru itu
bay” puji pak rahmat. Bayu hanya tersenyum malu mendengar pujian gurunya itu
dan ibu bayu juga ikut tersenyum. “ bay apa kamu sudah siap untuk berangkat?”
tanya pak rahmat. Saya siap pak jawab bayu
mantap. “ kalau begitu kita berangkat sekarang, ibu saya izin dulu untuk
membawa bayu ya, saya akan menjaga bayu selama di sana hingga kembali berkumpul
bersama ibu”kata pak rahmat sambil meminta izin kepada ibu bayu. “ iya pak,
tolong jaga bayu selama di sana ya pak, kalalau dia nakal dimarah saja” kata
ibu bayu sambil tersenyum. Akhirnya bayu dan pak rahmat pun berangkat tidak
lupa bayu bersalaman mencium tangan
ibunya dan ibunya memberikan ciuman kasih sayang di kening bayu sambil memeluk
tubuh bayu. Kepala sekolah yang juga da di situ turut menyalami bayu dan
mengucapkan selamat berjuang kepada bayu, selain kepala sekolah ada juga
beberapa guru turut menyalami bayu.
Brummm...suara motor pak rahmat
sudah melaju meninggalkan sekolah melwati perumahan, pepohonan yang menghiasi
pemandangan di desa bayu. Burun-burung yang bermain atas pepohonan turut
menghiasi keasrian akan desa bayu yang maih ramah lingkunan. Perjalanan menggunakan
sepeda motor hanya memakan waktu selama 15 menit untuk menuju terminal tempat
bis yang akan membawa penumpang ke kota pontianak. Tak terasa bayu dan pak
rahmat kini telah sampai di terminal. Pak rahmat menitipkan motornya, kebetulan
dia memiliki keluarga di sekitar terminl, jadi motor pak rahmat bisa aman di
tempat keluarganya itu. Pak rahmat mengajak bayu untuk segera memasuku bis yang
akan mereka tumpangi, kbetulan penumpang dalam bis terebut belum terlalu ramai,
sehingga bayu dan pak rahmat dapat memilih tempat duduk dengan leluasa. Kursi
depan adalah pilihan pak rahmat dan bayu, karena kata pak rahmat kalau duduk
dibarisan depat akan menghidarkan kita agar tidak pusing atau mabuk selama
dalam perjalanan. Bis yang ditumpangi bayu masih belum bergerak karena masih
menunggu penumpang lainnya. Karena masih menunggu bis berjalan pak rahmat
memutuskan untuk turun dari bis sebentar kamu jangan kemana-mana ya. “bay kamu
tunggu bapak disini sebentar ya, pbapk mau turun untuk membeli kue dan permen
agar dalam perjalanan nanti kita bisa ngemil” kata pak rahmat. “ baik pak, bayu
akan menunggu bapak disini” balas bayu. Agak lama juga pak rahmat turun dari
bis namun belum kembali, sementar supir bis sudah duduk di kursinya untuk
segera jalan karena penumpang sudah penuh. Bayu jadi khawatir dengan pak rahmat
yang belum kembal, sementara bayu menoleh dari kaca jendela namun pak rahmat
tidak terlihat. Akhirnya bayu memberanikan diri kepada supir bus untuk menunggu
pak rahmat “ pak guru saya masih belum naikm bis tadi katanya mau beli kue ,
bisakah bapak menunggunya sebentar” kat bayu dengan agak gugup. “ baiklah dek
tapi kalau terlalu lam kasian penumpang yang lain harus menunggu” kata supir
bus. Lima menit berlalu bayu semakin khawatir dengan pak rahmat. Dari jauh
sopion bus terlihat pak rahmat tampak tergesa-gesa untuk menaiki bus. “wah itu
guru saya pak” kat bayu kepada supir bus, “oh iya”, jawab supir bus singkat.
Pak rahmat segera naik ke dalam bus dan menduduki kursinya,” bay sudah lam
menunggu ya, tadi ramai orang diwarung jadi bapak terpaksa antri nuntuk
membayar kuenya, nah ini kuenya nanti kalau kamu para kamu makan saja”, kta pak
rahmat dengan nafas agak terengah-engah.” Ia pak, terima kasih”, kata bayu. Dan
pak rahmat juga meminta maaf kepada supir bus karena telah menunggu “ maafkan
saya pak karena gara-gara saya penumpang terpaksa menunggu lama” kata pak
rahmat kepada supir bus. “iya pak tidak apa-apa” jawab supir bus. Bus yang bayu
tumpangi akhirnya bergerak meninggalkan terminal dengan perlahan, namun semakin
jauh dari terminal pak supir menambah kecepatannya, hingga terminal sudah tak
tampak lagi. Perjalanan ke pontianak memakan waktu sekitar enam jam, jadi bayu
dan penumpang lainnya bisa tidur untuk melepas penat duduk dikursi yang akan
memakan waktu berjam-jam nantinya.
Tak terasa ternyata perjalanan sudah
hampir dua jam. Bayu yang sejak tadi masih segar saja. Ia sesekali memperhatikan
penumpang yang berada di bangku barisan belakang, ada yang sudah tertidur lelap
bahkan ada beberapa penumpang terlihat muntah-muntah karena masuk angin. Untung
saja bayu tidak masuk angin dan kini ia merasa lapar lalu memakan kue-kue yang
dibelikan pak rahmat sambil memperhatikan pemandangan yang dilewatinya dari
jendela kaca bus. Sementara pak rahmat tampaknya sudah terlelap dan bersandar
dikursi yang didudukinya. Ini memang pengalaman pertama bayu menaiki bus dan
yan pertama kalinya juga ia ke kota pontianak. Pak supir yang tamapknya sangat
lihai membawa bus membuat bayu menjadi kagum. Belokan-belokan tajam dilewatinya
dengan mulus dan yang terpenting adalah dapat membawa penumpang bus elamat
sampai tujuan mereka masing-masing.
Beberapa kota telah dilalui bus yang
ditumpangi bayu antaranya sambas, singkawang, mempawah dan kini bayu telah
memasuki kota pontianak. Namun tampaknya bayu sangat kelelahan sehingga ia juga
terlelap seperti penumpang lainnya. Namun i sebelah bayu yaitu pak rahmat sudah
bangun sejak tadi. Memasuki kota pontianak pak rahmat segera membangunkan bayu
karena ingin memperlihatkan kepadanya keelokan kota pontianak. Bayaknya
gedung-gedung bertingkat, jembatan kapuas yang melintangi sungai kapuas yang
dikenal sungai terpanjang di indonesia dan banyak lagi pemandangan lainnya.
Bayu hanya tertegun melihat pemandangan itu dan dalamhatinya juga berdecak kagum
akan keindahan kota yang saat ini di datanginya itu.
Pak
rahmat meminta supir bus untuk diberhentikan di terminal tidak jauh dari hotel
garuda pontianak, karena rencananya pak rahmat dan bayu akan menginap di hotel
tersebut. Kini bayu dan pak rahmat telah turun dari bus tidak lupa membanyar
ongkos yang diberikan pak rahmat kepada kenek bus. Sebelum melanjutkan
perjalanan ke hotel pak rahmat mengajak bayu untuk duduk sebentar di terminal
karena mungkin terlalu lama duduk jadi agak kepenatan. Bayu hanya menurut saja.
Tiba-tiba saja mata bayu tertuju pada seorang polisoi lengkap dengan seragam
coklatnya tampak sedang berdiri mengawasi jalannya lalu lintas di perempatan
jalan tanjung pura. Tapi setelah lama mengamati bayu menjda heran kenapa pak
polisinya tidak bergerak sama sekali dan hanya berdiri dalam keadaan istirahat
dengan tangan dikepal dibelakang. Bayu menjadi penasaran dan ditayakannya
persoalan tersebut kepada pak rahmat yang sedang duduk bersandar di terminal. “
pak bapak lihat polisi yang sedang berdiri diperempatan jalan disana, kenapa ia
hanya berdiri saja, padahal ada motor yang berhenti di depan garis marka?
Kenapa ia tidak meniupkan peluitnya? Padahal itukan sudah melanggar peraturan
lalu lintas dan pak polisi itu hanya melihat saja ?” tanya bayu penuh
penasaran. “ hahahahahaha......kamu lucu sekali bay” pak rahmat ketawa
terbahak-bahak, namun bayu sama sekali tidak mengerti apayang membuta pak
rahmat tertawa begitu terbahak-bahak hingga ada orang di terminal yang sempat
melirik. “ pak apa yang bapak ketawakan,bayu tidak mengerti” tanya bayu lagi. “
hemm maafkan bapak bay, bukan maksud bapak buat tertawakan kamu, tapi kamu lucu
sekali, coba deh kamu perhatikan beul polisi yang berdiri itu, dari polisi itu
dibuat dia memang tidak pernah bergerak sedikitpun, karena dia bukanlah polisi
beneran tapi hanya patung polisi yang dang didirikan disitu, itu adalah ikon
kota” pak rahmat menjelaskan dengan panjang lebar dan sedikit menahan seyumnya.
Oh begitu ya pak, pantas saja tadi bapak tertawa begitu terbahak teryata emang
bayu yang terlalu polos hehe( jawab bayu dengan terseyum malu). “ya sudah bay
sekarang kita akan menuju hotel garuda yang ada dibelakang polisi itu kita akan
menginap disana, ayo kita berangkat” ajak pak rahmat kepada bayu. “ ayo pak” sambung
bayu.
Bayu
dan pak rahmat mulai berjalan dari terminal menuju hotel dengan berjalan kaki
karena jarak antara terminal dan hotel hanya kurang lebih 100 meter. Pak rahmat
mengenggam tangan bayu melintasi kedaraan yang sangat padat karena anak kecil haru
selalu dalam bimbingan orang tua ketika melintas di jalan raya. Tak lama
berjalan akhirnya pak rahmat dan bayu ssegera masuk ke hotel. Pak rahmat
meminta bayu untuk duduk sebentar di kursi lobi hotel, sementara pak rahmat
menemui recepsionis untuk melakukan check in. Haya 2 menit saja pak rahamat
kembali mengajak bayu untuk menuju kamar yang kan mereka tempati selama dua
malam. “ bay sekarang kita kan ke kamar tenpat kita menginap” kata pak rahmat.
“iya pak, oh ya pak bayu perhatikan dari tadi bayak sekali orang yang lalu
lalang disini, apakah mereka tamu hotel semua pak?” tanya bayu. “ oh iya bay,
tapi ada juga yang merupakan pegawai atau kayawan di hotel ini”, kata pak
rahmat.
Akhirnya
pak rahmat dan bayu sampai ke kamar hotel yang akan mereka tempati. Mereka
langsung mandi untuk membersihkan tubuh dan menyegarkan tubuh. Pak rahmat
mengajak bayu untuk berkeliling kota pontianak. Mereka menggunakan angkutan
kota. Banyak tempat yang didatangi bayu dan pak rahmat diantaranya museum
kalbar yang terletak di jalan Ahmad Yani. Pak rahmat sengaja mengajak bayu ke
museum, untuk mengenlkan peninggalan-peninggalan sejarah dari kalimantan barat.
Bayu semakin kagum melihat begitu banyaknya peningglansejarah yang ada. Selama
ini ia hanya melihat dibuki atau di telivisi saja, tapi sekarang ia melihat
wujud asli dari benda-benda bersejarah itu. Berhubung hari sudah mulai gelap
pak rahmat mengajak bayu untuk kembali ke hotel untuk beristirahat karena esok
pagi adalah hari yang telah ditunggu-tunggu untuk mengikuti perlombaan itu.
Perlombaan bertempat di taman budaya kalimantan barat. Nah di situlah bayu kan
menunjukan kebolehannya dalam memetik gitar kepada para juri dan tentunya kepda
pengunjuung taman budaya kal bar.
Pagi
ini bayu dibagunkan oleh pak rahmat untuk solat subuh. Usai solat bayu bayu
langsung mengambil gitar yang sudah di bawakan pak rahmat untuknya. Bayu hanya
melakukan pemnasan-pemansan dengan jari jemarinya agar tidak kaku saat
perlombaan nanti. “ bay kamu jangn latihan yang terlalu berat ya, nanti selesai
latiah kamu segera mandi dan nati kenakan baju yang bapak telah belikan
untukmu, nah ini bajunya” pak rahmat memperlihatkan sepasang jas bewarna hitam
dengan celana kain pas untuk ukuran bayu di lengkapi dengan dasi pita bewarna
biru. “ ini untuk bayu pak, bagus sekali terima kasih ya pak”. Iya sama-sama”
jawab pak rahmat. Bayu langsung mandi kemudian memakai jas yang deiberikan pak
rahmat untuknya. Bayu tampak sangat tampan mengenakan jas tersebut, kulitnya
yang putih dan rambutnya yang lurus pendek semakin pas dengan apa yang
dikenakannya.
Sepuluh
menit perjalanan dari hotel ke tempat perlombaan yaitu taman budaya. Pak rahmat
dan bayu memakai taksi untuk pergi ketempat perlombaan. Sampai di taman budaya teryata tlah bayk orang yang
hadir disana. Mereka yang mnegikuti perlombaan memakai pakaian yang
bagus-bagus. Namun bayu tidak kalah bagus dengan mereka karena jas yang
dberikan pak rahmat untuknya cukup membuat bayu tampak rapi dan ganteng. “ nah
bay ini adalah taman buda, sekarang ayo kita masuk dan mencari tempat duduk”
kara pak rahmat. “baik pak”, jawab bayu. Pak rahmat mengajak bayu duduk di
barisan paling depan, semntar gita yang dibawa pak rahmat disimpan dismpingnya.
Kebetulan disitu juga ada teman pak rahmat di kota yang juga merupakn seorang
guru musik sedang membawa anak seusia bayu yang juga ingin mengikuti
perlombaan. Anak itu bernama Bagas dan anaknya sangat ramah bahkan mengajak
bayu kenalan. “ halo namu kamu siapa aku bagas, dengan logat jawanya, karena
bagas merupakan keturunan jawa bekasi”, sapa bagas kepada bayu. “ nama ku bayu,
aku mwakili kabupaten samabas, kalau kamu?” taya beyu kembali. “ aku mewakili
kabupaten pontianak, senang bertemu dengan mu bayu. “ iya aku juga” jawab bayu.
Pembawa
acara telah memulai acara perlomabaan. Bayu mendapat undi nomor tiga sementara
bagas mendaat undi nomor lima. Tangan bayu terasa dingin jantung degdegan, pak
rahmat yang mengerti kodisi bayu dan menenangkan bayu, “bay kamu tenang saja,
kamu pasti bisa anggap saja peninton yang ada disini adalah teman-temanmu yang
inguin menyaksikan penampilan terbaikmu” nasihat pakrahmat. “ iya pak doakan
bayu”. “Sekarang kita panggil undi nomor tiga atas nama bayu putra permana
untuk naik keatas panggung, beri tepuk tanyan yang meriah” pembawa acara
memnggil nama bayu”, bayu langsung naik kepanggung dan membawa gitarnya. “
selamat pagi para juri dan selamat pagi juga saya ucapkan kepada para penonton,
semoga anda terhibur” pembukaan dari bayu.
Bayu
mulai memetik gitarnya, yang memainkan beberapa lagu yang dikombinasi dengan
aransemen yang sangat indah, sehingga
membuat penonto tak ingi bersuara sedikitmu karena ingin selalu mendengar suara
gitar bayu samapai lagu berakhir. Tepuk tangan penonton menggemparkan seisi
ruangan. Bayu tersenyum dan memberikan salam hormat kepada seluruh penonton.
Pak rahmat sampai berdiri untuk memberikan tepuk tangan kepada bayu muridnya
sekaligus sudah dianggapnya anak sendiri yang sudah meberikan penampilan
terbaiknya. Bayu kmbali duduk disamping pak rahmat, “wah bay permainanmu tadi
sangat bagus,bapak bangga denganmu” puji pak rahmat. “ terima kasih pak tapi
bayu kan belum menang, jadi kita tunggu sampai pengumumannya baru deh bapak
puji bayu” goda bayu. Satu persatu peserta telah tempil begitu dengan dengan
bagas teman baru bayu, ia juga main dengan baik dimana jmlah peserta semuanya
ada 20 peserta dari . Sampai akhirnya pada acara terakhir yaitu pengumuman
hasil perlombaan. Semua peserta tampak begitu degdegan karena berharap dapat
pulang untuk menjadi pemenang. Begitu juga dengan bayu iya hanya bia berdoa
kepada Tuhan agar diberikannkesmpatan untuk menjadi pemenang. “penonton inilah
saat yang kita tunggu-tunggu , saya akan membacakan juara dari perlombaan ini,
saya akan mulai dari juara ketiga yang di raih oleh doni abdullah no peserta 15,
juara ke dua di raih oleh bagas saputra no undi 5. “ selamat ya gas kamu
berhasil mendpat juara dua” bayu mengulurkan tangna tanda selamatnya. “iya
sama-sama bayu, semoga kamu bisa juara satu” balas bagas. “ damn penonton yang
mendapat juara pertama serta memperoleh unag tunai sebesar satu juta rupiah
adalah bayu putra permana dengan nomor urut 3”, pak rahmat segera memluk bayu
dan menagis bahagia, bayu masih diam tak percaya kalau nama yang barusan di
panggil adalah dirinya. “bay kamu juara satu bay, selamat ya bayu” kata pak
rahmat “ haa aku menang, hanya menudukan kepla kepada juru dan penonton yang
memberikannya selamat atas kemenangannya. Tidak terkeculai bags yang harus
menerima juara kedua dibawah bayu, “selamat bay, kamu pantas mendapatkannya,aku
salut dengan permainanmu yang melebihi gitaris-gitari terkenal indonesia”, puji
bagas. “terima kasih bagas, kamu juga bermain dengan bagus sekali” balas bayu.
Bayu
pulang dengan membawa kemenangan. Bayu sangat berterima kasih dengan pak rahmat
yang merupakan pelatih sekaligus gurunya, “ bayu sangat berterima kasih kepada
bapak, tanpa bapak bayu tidak akan mendapatkan kemenangan ini” kata bayu, “ iya
bay, ini juga berkat kerja kerasmu, kamu memang sudah sangat berbakat, bapak
hanya memberikan sedikit bimbingan, berterima kasihlah kepada Allah juga ibumu
yang telah melahirkan anak cerdas sepertimu”, jelas pak rahmat dengan seyuman. “iya bapak
benar, nanti sampai rumah aku akan mengucap terimakasih pada ibu”, balas bayu.
Esok
harinya bayu dan pak rahmat kembali ke kampung halaman di desa teluk keramat.
Bayu yang baru dua hari meninggalkan rumah sudah sangat merindukan ibunya,
begitu juga ibunya selama ini mereka memang tidak pernah selama dua hari jadi
wajar aja kalau ibu bayu juga sangat merindukan putra semata wayangnya itu.
Pagi-pagi sekali bayu dan [pak rahmat sudah menunggu bis diterminal dekat
dengan hotel tempatmereka menginap tepatnya terminal tempat mereka berhenti
dari bus dua hari yang lalu. Tidak lama menunggu bus yang akan diaiki akhirnya
datang. Kali ini hanya
Hanya
menghabiskan waktu lima jam dalam perjalanan akhirnya sampai juga bayu dan pak
rahmat ke terminal teluk keramat. Pak rahmat kembali mengambil motor di rumah
keluarganya tempat ia menitipkan motorny dahulu. “pak bayu sudah tidak sabar untuk
bertemu ibu dan teman-teman bayu, bayu merindukan mereka pak, rasanya baru dua
hari berpisang tapi bagaikan sudah dua minggu saja” kata bayu. “ kamu sabar aja
bay, sebentar lagi kita juga bakalan bertemu mereka, nah ayo naik( pak rahmat
sudah menghidupkan motornya)”, iya pak, jawab bayu.
Saat
yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba bayu diantar pak rahmat sampai rumah. Ibu
bayu telah menyambut putranya dan pak rahmat i depan pintu. Bayu menyampaikan
kabar bahagianya kepada ibunya kalau dia memenangkan perlombaan itu, bu bayu
berhasil menang juara satu perlombaan” kata bayu. “ (ibu bayu terkejut dan
memluk bayu dengan bahagianya) syukur ahlamdulillah, kamu berhasil bay”, kata
ibu bayu sambil tersenyum. “iya bu, ini semua berkat doa ibu dan juga kesabaran
pak rahmat yang telah membimbing bayu (bayu menoleh pak ramat yang berada di
belakangnya) pak rahmat hanya terseyum mendengar pujian dari bayu. “ pak terima
kasih telah membimbing bayu selama ini, kata ibu bayu kepada pak rahmat”, oh
iya sama-sama bu itu memang tugas saya”. Pak rahmat menyerahkan amplop kepada
ibu bayu yang berisi uang tunai Rp. 1 juta hadiah atas kemenangan bayu, “ bu
ini uang bayu dari hadiah perlombaan itu, mungkin berguna buat bayu
melanjutkannsekolah nantinya”, kata pak rahmat. “ benarkah...terima kasih
banyak pak”. “ iya sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang dulu”, opak rahmat
meningga;lkan bayu dan ibunya dan segera menaiki sepeda motornya. “ wah bay ini
uangmu, kamu mau beli apa?”, tanya ibu bayu kepada bayu, “ ibu simpan aja bu, kalau
ada keperluan mendadak baru diambil,
bayu tidak mau beli apa-apa koq”
jelasbayu dengan seyim dibibirnya. “ oh baiklah mungkin benar kat pak rahmat
tadi, uang ini bisa dipakai untuk keperluan sekolahmu bay”, kat bu bayu sambil
terseyum melihat sikap bayu yang sama sekali tidak merasa ingin menggunakan
uang tersebut dengan hal lain selain sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar