Jumat, 05 Juli 2013

Bayu Si Anak pakis (bagian 3)

Kehidupan Baru Tanpa Ayah
Dua  tahun telah berlalu, hari demi hari dijalani Bayu dan ibunya dengan penuh perjuangan dan kebahagiaan. Bayu yang sudah terbiasa hidup tanpa seorang ayah kini tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sangat rajin membantu ibunya. Walaupun dia anak laki-laki tapi ia cukup cekatan membantu ibunya di dapur.selain membantu ibunya, mencari pakis adalah rutinitas Bayu, tidak ada belukar yang tak pernah ia jelajahi, tak ada anak sungai yang tak pernah ia datangi.
Semua tempat yang ditumbuhi pakis sudah ia taklukan.
Bersama sahabatnya Sono, Boby dan Gian ia selalu mencari sayur tanpa tuan di manapun ada tanda-tanda kehidupannya. Keemapat sahabat ini memang sangat akrab dan selalu saling membantu jika ada diantara mereka yang sedang dalam kesusahan. Boby yang juga masih saudara sepupu Bayu tidak lain adalah anaknya pak Jono omnya Bayu. Sementara Sono dan Gian adalah tetangga Bayu. Mereka masih sama-sama duduk di kelas empat sekolah dasar.
            Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Biasanya Bayu bangun agak pagi, soalnya usai shalat subuh bersama ibunya Bayu kembali tidur. Namun hari ini agak berbeda usai shalat subuh Bayu tidak kembali tidur melainkan langsung mandi. Ibunya menjadi heran melihat anaknya mandi sepagi ini. “lho bay koq kamu pagi sekali mandinya, emangnya mau kemana?”, eh ibu, Bayu sudah janji sama Boby, sono dan Gian kalau pagi ini kami mau pergi mancing ke sungai diperbatasan desa keta dengan desa sebelah, kata ayah gian yang sudah pernah mancing di situ ikannya banyak bu, apalagi ikan gabus, katanya besar-besar, kan lumayan kalau nanti siang kita bisa di buat lauk soalnya Bayu udah lama tidak makan gabus bu. Oh ya ibu setuju kan kalau bayu pergi dengan teman-teman Bayu ? atau ibu mau ikut mancing sama kita ?”, Bayu menggoda ibunya. Ah kamu bay ada-ada saja, ya sudah kamu boleh pergi sama teman-teman mu, tapi hati-hati di jalan bay, soalnya disana banyak pohon salak, ibu takut nanti kamu kena duri-durinya, kalau bisa kamu ambil jalan biar agak jauh, jalan kebunnya om jono di sana tidak ada poho salak, jadi ibu bisa tenang dirumah. (ibunya memberi saran). “ baiklah bu nanti Bayu akan ajak teman-teman Bayu untuk jalan kebunya om jono.
            Sambil menunggu  teman-temannya menjemput, Bayu asyik menyiapkan tali pancing dan tempat ikannya yang akan Bayu bawa untuk memancing, tidak lupa sebotol air minum juga ikut  dibawa agar tidak kehausan selama dalam perjalanan atau saat memancing nanti. Tidak lama Bayu menunggu teman-teman Bayu sudah memangil, “ Bayu..Bayu..Bayu..” telah kedengaran oleh Bayu. “ah itu pasti suara Sono, iya son tunggu bentar aku lagi masukan air minum dalam kantong. Bayu hafal betul suara teman-temanya baik Sono, Boby maupun Gian. Bayu pun keluar dengan segala perlengkapan memancingnya. Hai teman-teman ayo kita berangkat sekarang, let’s go jawab teman-temannya serempak. Sebelum pergi Bayu tak lupa selalu berpamitan dan bersalaman dengan ibunya, “Bu Bayu pergi dulu ya doakan Bayu supa bisa dapat ikan bayak hari ini, kata pak salman  guru Bayu, doa ibu biasanya cepat di kabulkan oleh Allah. Iya bay ibu selalu mendoakanmu nak, hati-hati dijalannya, ingat jangan sampai pulangnya telad, kalau bisa sebelum makan siang biar ibu bisa masak hasil pancinganmu,heheeee (ibu Bayu menggoda). “ok siap bu... Bayu pergi ya bu..assalamualaikum. iya waalaikumsalam.
            Bayu dan teman-temannya beranjak meningglkan rumah Bayu, sambil menyanyi dengan riang gembira.teman teman nanti kita jalan kebun ayahmu saja ya Son? Bayu menyampaikan ide. “ wah jalan itu kan jauh bay bisa-bisa 1 jam kita baru sampai di sungai tempat kita akan memancing, kita jalan pintas saja gimana ? sambung Boby, “jalan yang bayak pohon salak maksudmu ? kata Gian. Iya jalan itu lebih dekat palingan 20 menit udah samapai, jawab Boby. “ tapi bahaya teman-teman, kata ibuku disitu salaknya sudah besar-besar jadi durinya pasti bayak, aku takut nanti ada diantara kita yang tertusuk duri salak, bisa-bisa rencana memancing kita bisa gagal, bayu mencoba menjelaskan. Gian langsung menjawab “ benar juga kata bayu nenekku dulu juga pernah bilang kalau jalan kebun salak itu bahaya, selain takut tetusuk duri salak, juga ada orang bilang kalau di kebun itu banyak ular besar, kita ikut saran bayu saja. Sono cepat menengahi perdebatan kecil dari teman-temannya “ ya sudah kita jalan kebun ayahn ku saja selain aman, jalan itu juga lumanyan besih karena setiap minggu ayahku selalu membersihkannya. “baiklah kalau begitu aku ikut kalian saja, imbas boby yang dari tadi ngotot mau jalan kebun salak. Akhirya keempat sahabat itu memasuki jalan kebun ayah sono. Selama dalam perjalanan mereka selalu berbincang-bincang, hal apa saja yang mereka bincang-bincangkan mulai dari berapa banyak ikan yang akan mereka dapatkan ketika memancing nanti, menceritakan tentang sekolah dan bayak lagi hal lainya, hingga ta terasa mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka memancing. “wah teman-teman kita telah sampai di sungai, coba kalian perhatikan air sungai, sangat bergelombang karena banyak ikan yang meloncat-loncat” kata bayu. “ iya bay, ayo kita pasang umpan sekarang, kata Boby, Sono dan Gian serempak.  Tanpa belama-lam lagi keempat ank ini segera memasang umpan dan menancapkan mata pancingnya ke air sungai. “ wah teman-teman coba kalian lihat pohon besar yang ada di tepi sungai itu (bayu menunjuk kearah pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, yang berjarak kira-kira 50 meter)”. Memangnya kenapa dengan pohon besar itu bay ? tanya boby. “ kelihatannya disan airnya cukup beriak, pasti banyak ikannya di sana ! jelas bayu. “ ah kamu aja yang kesana bay, aku disini aja, jawab boby. Baiklah aku kesana ya !. iya jawab teman-temannya serempak. Bayu pun beranjak dari tempatnya dan langsung mendekati pohon itu, tak lam mempersiapkan pancing bayu langsung menancapkan mata pancingnya ke sungai tepat dibawah pohon. Hanya berselang 1 menit setelah bayu melempar mata pancingnya ternyata benang pancingnya sudah menengang dan tertarik kedalam air sampai-sampai hampir masuk air juga joran yang di pegang bayu, (wah ini past ikannya beasar) bisik bayu dalam hati, bayu tidak langsung menarik joran pancingnya, ia menunggu sebentar sampai mata pancingnya benar-benar sudah di lahap ikan yang masih ada di air. Sampai beberapa saat kemudian, bayu menarik dengan keras jorannya, tidak tanggung-tanggung lagi ikan gabus besar menyangkut di mata pancing bayu, bayu berteriak kegirangan. Suara bayu di dengar teman-temannya diseberang sana. “ wah bayu kamu sudah dapat ikan ?” teriak Gian, iya tu tampaknya ikan yang didapat bayu sangat besar, sambung sono. Boby yang dari tadi sibuk memperhatikan joran pancingnya yang juga sedang ditarik-tarik ikan tidak memperdulikan temannya yang sedang berteriak melihat ikan bayu yang  besar. Siutttt...boby menyembat pancingnya dan ternyata ia juga mendapat seekor ikan gabus yang cukup besar, namun tidak lebih besar dari ikan gabus yang di dapat bayu. Gian dan sono yang berdiri disamping boby terkejut melihat boby juga mendapat seekor ikan gabus, “ wah kalian hebat bisa dapat ikan gabus yang besar, kapan giliran kita ni Son ?”, Gian merilik Sono. “ sabar aja Gian palingan bentar lagi kalian juga dapat ikan”, jawab boby yang lagi sibuk melepas ikan di mata pancingnya. “ Boby benar, kita harus sabar dan tidak boleh dengki dengan apa yag dimiliki orang lain, terlebih lagi teman kita, terang sono kepada Gian. “iya son kamu benar, sekarang ayo kita lanjutkan mancingnya, imbuh Gian. Keempat anak ini kembali fokus dengan pancingnya masing-masing. Tak lama menunggu tenyata pancing Sono disusul Boby ditarik-tarik ikan, ternyata mereka juga mendapatkan ikan gabus yang besar-besar, bukan main girangnya anak ini mendapatkan ikan yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Keberuntungan ini disusul oleh teman temannya yang lain, hingga pada akhirnya mereka banyak mendapatkan ikan gabus di dalam keranjang ikannya masing-masing. Tak terasa waktu sudah menjelang siang waktu itu kira-kira pukul 11.30 siang, keempat anak ini segera mengakhiri acara memancingnya karena harus pulang kerumah, terlebih lagi bayu yang sudah di pesan sama ibunya untuk tidak pulang terlalu siang. Karena khawatir akan ibunya yang sedang menunggu dirumah, bayu segera mengajak teman-temannya pulang lalu disetujui oleh teman-temannya.
            Dalam perjalanan pulang mereka merasa gembera karena telah mendapatkan bayak ikan namun juga merasa sangat kecape’ankarena telah setengah harian memancing. “teman-teman berapa lama lagi kita berjalan, rasanya aku sudah letih sekali” kata sono. Iya nih aku juga, mana air minum bekal kita sudah habis diminum ketika memancing tadi, rasanya tak kuat lagi aku berjalan”, sambung Boby. “Gimana kalau kita ambil jalan pintas saja ?”, gian menyampaikan ide. “Jalan pohon salak maksud mu, ah aku tak berani” sanggah bayu. “Kita udahkepepet bay, bukannya ibumu menyuruh kalu kamu tidak pulang terlalu siang bukan, kalau kita ambil jalan salak sebelum jam 12 kita sudah sampai rumah, tapi kalau kita jalan kebunya ayah sono bisa-bisa jam 12.30 kita baru sampai rumah dan pasti ibumu sudah tidak sempat lagi memasak ikan hasil memancingmu. Iya bay Gian benar, sudahlahlah kita jalan salak saja, intinya kita harus hati-hati biar tak tertusuk duri salak. “ hemmmb...baiklah kalau itu ide kalian, ayo kita jalan sekarang ?”, ajak bayu.
            Merekapun memasuki jalan salak dengan merunduk karena batang salaknya juga masih banyak yang rendah jadi harus hati-hati biar tidak sampai tertusuk oleh duri salak yang terkenal sangat tajam tersebut. Boby yang berjalan di bagian paling depan, Sono dibelakang Boby, Gian menyusul belakang Sono dan bayu berjalan di bagian paling belakang. Baru sekitar 5 menit mereka berjalan tiba-tiba ada bunyi di semak-semak daun salak tua yang sudah jatuh ke tanah, namun keempat anak ini tidak begitu memperdulikan bunyi terseut, mereka haya mengira seekor kodok yang lagi mencari makan. Ternyata itu bukan seekor kodok melainkan seekor ular hitam yang cukup panjang dengan cepat meranyap menghampiri keempat ank tersebut...shuuuttt... gigi ular tersebut menancap di kaki bayu tepatnya di betis sebelah kanan bayu. Teman-teman bayu yang tidak sadar akan bayu yang digigit ular tidak memperhatikan bayu yang berjalan dibagian belakang, hingga pada akhirnya mereka mendengar suara jeritan bayu yang kesakitan karena telah digigit seekor ular hitam yang panjang. Semetara ular tersebut sudah pergi jauh. “aduhhh.... kakiku sakit,,tolong aku teman-teman”. Teman-teman bayu terkejut mendengar rintihan bayu yang sdang kesakiatan, “kenapa dengan kakimu bay? Boby panik. “Aku digigit ular hitam panjang,lihat itu ularnya sudah berlari jauh”. Walau sudah jauh namun ular itu masih terlihat oleh ketiga teman bayu. “Wah sialan ular itu, biar ku lempar dia pake duri salk ini, berani-beraninya menggigit bayu”, umpat Sono kesal. “Sudah teman-teman sebaiknya kita tolong bayu biar rancun dari gigitan ular tesebut tidak menyebar ke seluruh tubuh bayu” Gian menenangkan. “Sebaiknya apa yang harus kita lakukan, lihat betis bayu ulai biru?”, kata boby. “kita harus mengikat kuat dengan tali atau kain betis bayu yang dekat dengan bekas gigitan ularnya sebelum racun ular tersebut menyebar, ayo cepat kita lakukan !” perintah Gian. Sono segera mengambil tali rafia yang dibawaya sejak dari rumah dan langsung mengikat betis bayu dekat gigitan ular, dengan sigap sono selesai mengikatnya, nah teman-teman sebaiknya sekarang kita cepat pulang agar bayu segera diobati. Bayu yang sejak tadi mengerang kesakitan hanya mengikut saja tanpa berbicara apa-apa karena sangat menahan sakitnya digigit ular.
            Bayu tak mampu berjalan sendiri sehingga harus dipapah oleh sono dan boby, sementara gian membawa keranjang ikan bayu yang di kaitkan di pundaknya. Sudah cukup lama berjalan akhirnya mereka sampai juga di rumah bayu dan langsung memanggil ibu bayu. “ ibu..ibu..kami pulang bu. Ibu bayu yang sedang beradadi dapur segera keluar menemui anak-anak., betapa terkejutnya ibu bayu ketika melihat ank semata wayangnya segdang menangis menahan sakit serta lagi dipapah oleh teman-temannya. “kenapa dengan bayu ? apa yang terjadi padanya ?, ibu bayu panik melihat anaknya. Gian dengan gemetaran menjawab “begini bu tadi bayu diggit ular ketika kami melewati kebun salak”. “ kan ibu sudah bilang jangan lewat kebun salak, kenapa kalian masih lewat situ? bayu yang sejak tadi kesakitan akhirnya bersuara, “ maafkan bayu bu dan teman-teman bu, kami ingin cepat sampai kerumah agar ibu bisa masak ikan dari hasil pancingan bayu, jadi kami mengambil jalan pintas”bayu berusaha menjelaskan, “iya bu maafkan kami juga karena telah mengajak bayu mengambil jalan itu yang akhirnya bayu digigit ular” sono dan teman-teman minta maaf. Ya sudah ibu sekarang mengerti, sekarang kalian pulang saja pasti ibu kalian khawatir kalau kalian terlambat pulng, bayu biar ibu yang mengurus, terima kasih ya kalian sudah menolong bayu selama bayu digigt ular”. Iya bu sama-sama, jawab sono dan teman-teman serempak oh ya bu ini ikan yang didapat bayu selama memancing (gian menyerahkan keranjang ikan bayu kepada ibu bayu.
Masih dalam muka panik ibu bayu segera mengajak bayu masuk ke dalam rumah dan segera memberi bayu obat berupa daun-daunan yang dipercaya bisa menetralkan racun. sementara menunggu kedatangan pak mantri dari puskesmas yang di minta ibu bayu untuk datang mengobati bayu. Bayu yang sedang mengerang kesakitan terlihat mukanya pucat, matanya semakin sendu dan tangannya dingin. Hal ini membuat ibu bayu semakin panik sampai-sampai tangannya juga ikutan dingin. Setelah beberapa lama menunggu pak mantri yang di panggil untuk mengobati bayu puyn tiba di kediaman bayu. “ slamat siang bu, saya dengar ada yang dgigit ular, apakah anak ibu ini ?” pak mantri menoleh kearah bayu yang sedang kesakitan. “oh iya pak, ini bayu nak saya tolong segera diperiksa pak karena saya takut sekali melihat keadaan bayu sekarang”. Iya bu, tolong ibu tenang dulu jangan panik seperti itu, biarkan saya memeriksa bayu. Pak mantri segera memeriksa denyut jantung bayu, lalu kemudian memberi suntikan kepada bayu. “maaf bu ini daunan apa yang ibu berikan kepada luka gigitan dikaki bayu ? pak mantri bertanya kepada ibu bayu. “ oh itu daun kalimaok dan daun sirsak muda, kata orang orang bisa menetralkan racun dalam tubuh orang yang digigit ular”, ibu bayu menjelaskan. Pak mantri hanya mengganguk pelan, “oh begitu”.
Setelah agak lama memeriksa bayu serta membersihkan luka lalu membalut kaki bayu yang terkena gigitan ular, pak mantri memberikan sejumlah obat yang harus diminum bayu kepada ibu bayu. “  bu keadaan bayusudah tidak terlalu buruk, untung ibu cepat memanggil saya, oh ya bu ini obat-obatan yang harus diberikan kepada bayu, cukup diberikan 3 kali sehari setelah makan dan jangan sampai kelupaan memberikannya ya bu”. “ iya pak terima kasih, oh ya berpa yang harus saya bayar pak”, bu bayu bertanya kepada pak mantri. “ tidak usah bu, kan warga didesa ini semuanya punya askes kan, jadi biaya pengobatan gratis. Pak mantri menjelaskan. “ iya pak kami memang punya askes, terima kasih ya pak atas kebakannya mau datang ke rumah kami”. “ jangan berterimakasih bukwerena itu memang tugas saya untuk mengobati pasien yang sedang membutuhkan pertolongan.
Setelah mengongobol agak lama dengan ibu bayu pak mantri pun pamt untuk kembali ke puskesmas. “ bu sekarang saya mau pamit undur diri karena kakerna harus kembalinke puskesmas”. oh begitu, terima kasih bayak pak, hati-hatidi jalan. “ iya bu sama-sama. Setalah mengantar pak mantri ke depan pintu ibu bayu kembali menmani bayu yang sejak tadi sudah terlelap dalam tidurnya, mungkin karena diberi obat  tidur olkeh pak mantri sehingga membuat bayu tenang dan tidak kesakitan. Dalam tidur bayu ia bermimpi bertemu ayahnya, ketika itu ia dan ayahnya sedang bermain mobil-mobilan yang belikan ayahnya sebelum pergi meninggalkan rumah karena telah menceraikan ibunya. Tidak hanya berm,ain mbil-mobilan bayu juga bermain petak umpet bersama ayah dan ibunya yang pernah ia lakukan lakukan dulu selagi ayahnya masih tinggal bersama, entah apalagi yang ada dalam mimpi bayu, sehingga ibunya yang memperhatikan tidur bayu menjadi heran melihat bayu yang sedang tersenyum dalam tidurnya. Ibu bayu mengelus-elus rambut bayu yang basah oleh keringat karena tadi menahan sangit yang teramat sangat. Sementar bayu masih melanglang buana dalam mimpi indahnya saat bermain petak umpet berasama kedua orang tuanya, dalam bermain itu ayah bayu tiba-tiba menghilang dan tidak ketemu-ketemu walau sudah dipanggil bayu berkali-kali. Bayu yang hanya merasa memanggil ayahnya di dalam mimpi ternyata suaranya terdengar di alam nyata, ibu bayu terkejut mendengar bayu yang tiba-tiba memanggil nama ayah. Bayu yang tadinya terlelap akhirnya bangun dari tidur dan mimpinya. Ibu bayu yang terkejut langsung bertanya pada anaknya yang sudah membuka mata, “bay kamu mimpi ya, apa yang kamu mimpikan sampa-sampai kamu memngigau memanggil ayah?”, “iya bu tadi bayu mimpi kalau kita bertiga bayu, ibu dan ayah sedang bermain petak umpet. Tapi sedang asyik main tiba-tiba ayah mengilang, bayu telah memanggilnya berkali-kali namun tidak ada sahutan dari ayah”, bayu menceritakan mimpinya. “oh itu ternyata yang membuatmu mengigau memanggil ayah mu, sudahlah nak kamu harus bangun dari mimpimu itu, ayah mu sudah tak bersama kita lagi sekarang haya ada bayu dan ibu, bayu ibu sangat sayang sama bayu makanya bayu harus cepat sembuh ya? Iya bu maafkan bayui karena telah membuat ibu mengkhawatirkan bayu, bayu juga sangat sayang sama ibu, bayu janji akan selalu menuruti kata-kata ibu dan tak akan pernah melawan ibu karena kata pak samlman surga itu di bawah telapak kaki ibu, bayu juga janji suatu saat bayu akan berhasil dan membuat ibu bangga dengan bayu”. Dengat penuh kehangatan dan kasih sayang ibu bayu memeluk ank semata wayahnya dengan erat seakan tak pernah bisa dipisahkan walau bencana besar datang sekalipun kedua anak-beranak ini saling menyatu padu bagaikan laut dan pantai yang salaing menyatu.
Sudah dua hari bayu berada dirumah dan tidak masuk sekolah karena keadaanya yang tidak memungkinkan untuk datang ke sekolah, bayu hanyamenitip surat kepada sono temannya. Namun pagi ini bayu sudah tampak sehat, luka di betis bekas gigitan ular juga sudah membaik berkat obat  yang diberikan oleh pak mantri yang sangat mujarab. Selain itu ibunya juga selalu mendoakan kesembuhan bayu kepada Allah SWT Tuhan yang maha menyembuhkan. Kemungkinan besok bayu sudah bisa masuk sekolah kembali, karena bayu ingin cepat-cepat datang ke sekolah dan kembali belajar bersama teman-temannya. Maklum bayu sudah sangat btidak betah hanya berdiam diri dirumah, selama ia sakit ia ia hanya membaca buku karena takut ketinggalan pelajaran dari teman-temanya. Bayu adalah anak yang sanagt cerdas dan berbakat, dari kelas 1 sampai kelas 3 ia selalu mendapat rangking 1 tiap semester, hal ini tentu saja membuat ibinya bangga. Selain itu aia juga merupakan muid kesanyangan para guru karena selain otaknya yang cerdas ia juga dikenal memiliki budi pekerti yang luhur dan sangat terampil bermain musik gitar. Hal ini membuat teman-teman bayu sangat menyukainya. Byu mulai belajar gitar sejak ayahnya masih tinggal bersamanya, sampai saat ini gitar yang dipakai bayu masih tetap awet dan bagus, karena selalu di bersihkan bayu.
Bayu yang cerdas di sekolah juga sangat rajin di rumah dan suka menolong ibunya baik menolong di dapur juga menolong ibunya mencari pakis yang tumbuh bebas di belukar. Pakis yang di ambil lalu diikat-ikat dan dijual kepada masyarakat. Itulah yang dapat memenuhi kebutuhan pokok bayu dan ibunya. Namun bila musim panas panjang tiba pakis tidak tumbuh subuh dan otomatis  penghasilan bayu dan ibunya juga berkurang. Tidak jarang ibu bayu berhutang di warung wak aceng apabila memang tidak ada uang sedeikitpun untuk makan. Bayu sangat mengerti kondisi keuangan ibunya yang sangat memprihatinkan, sebab semenjak ayahnya sudah tidak tinggal bersamnya ibu bayu sendiri yang membanting tulang mencari nafkah untuk kebutuhan makan dan sekolah bayu. Sejak ayahnya pergi tidak ada sepeser uangpun diterima bayu sebagai anak, meskipun menurut agama seorang ayah berkewajiban memenuhi kebutuhan anaknya sekalipun sudah berpisah atau bercerai dengan istrinya. Ayahnya juga tak pernah mengunjungi bayu walau sekalipun selama ia pergi meninggalkan rumah. Bayu yang sudah terbiasa hidup tanpa seorang ayah sangat tegar menjalani hidup, meski mainan  tak pernah ia dapatkan lagi, karena ibunya tak mampu membelikannya untuk bayu. Kini hidup bayu sangatlah bergantung pada si pakis yang tak bisadiperkirakan akan terus tumbuh atau tidak di belukar. Sebenarnya ibu bayu sangat ingin bercocok tanam padi, namun apa daya tak ada lahan, mau menyewa tak punya uang jadi terpaksa hanya mengandalkan ketersediaan pakis. Semakin hari bayu semakin tumbuh besar dan cerdas. Tak terasa sekarang bayu sudah duduk dikelas 4 SD teluk keramat. Bayu tak pernah berubah ia masih suka membantu ibunya dan tak pernah melawan perintah ibunya, beruntung benar bu minten mempunyai anak laki-laki seperti bayu.
Hari ini bayu berangkat lebih awal karena mendapat jadwal piket kelas. Bayu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Maklum ia tyidak memiliki sepeda, namun sesekali ia ditumpangi oleh sono yang memiliki sepeda. Namun bayu juga tidak mau selalu menumpang di sepeda sono karena ia lebih suka jalan kaki, katanya biar lebih sehat. Pagi ini  bayu tidak berangkat sendirian karena ada Susi anaknya wak aceng yang punya warung juga berangkat sekolah jalan kaki. Biasanya rahma naik sepeda namun hari ini ia jalan kaki sehingga yang biasanya bayu yang jalan ke sekolah sendirian kini jadi punya teman. “ lho Susi kenapa kamu jalan kaki, biasanyakan kamu naik sepeda, memangnya man sepeda kamu?”, tanya bayu. “ iya ni bay aku jalan kaki, sepedaku rusak saat pulang sekolah kemaren”, jelas susi. Wah rusak kenapa susi, rusaknya kemaren kenapa belom dibetulkan?, “saat pulang sekolah sepedaku tiba-tiba remnya putus, padahal waktu ku simpan di parkir remnya masih baik-baik saja dan ayahku belom sempat betulkan karena sibuk di warung”. Aneh sekali ya sus, jangan-jangan ada yang sengaja rusakkan soalnya sepertinya kurang masuk akal kalau tiba-tiba rusak. “iya sih bay, sebenanya bukannya mau menuduh sembarangan, tapi ada teman aku dewi bilang kalau tono anak kelas 5 dan teman-temannya sempat mndeati sepedaku, dan seperti jongkok-jongkok mengelilingi sepedaku, soalnya yang ku tahu Tono itukan anaknya memang nakal”, jelas susi. Begitunya ? kenapa tidak kau tanyakan sama Tono?, “ wah... mana ku beranai bay, salah-salah nanti aku dipukulnya”. Baiklah kalau begitu nanti biar aku dan sono yang akan menanyakannya langsung sama tono biar kita tidak salah sangka lagi, dan kalau memang benar dia pelakunya biar di laporkan pada kepala sekoalah, biar dianjera dan tidak mengganggu anak-anak lainnya. “ kamu tidak takut bay? dia kan tukang pukul dan sering di hukum oleh dewan guru karena ulahnya yang nakal itu”. Kenapa harus takut sus, aku cuma bermaksud menanyakannya dan kamu tenang saja aku tidak akan berantem kok sama dia. “ iya tapi hati-hati ya bay, ayo kita berjalan lagi rasanya juga cukup menyenangkan kalau sesekali jalan kaki seperti ini”. Iya dong kamu harus sering-sering jalan kaki biar sehat seperti aku, hehehe...., canda bayu.
Dalam perjalanan mereka beryanyi-nyayi dengan lagu yang riang gembira seperti lagu potong bebek angsa, tukang bakso, tukang becak dan lagu lainnya. Tak terasa berjalan mereka pun sampai di sekolah yang di tuju dengan sselamat. Bayu yang merasa dirinya piket kelas langsung masuk kelas lalu mengambil sapu dan segera mealukan tugasnya. Sebenarnya maih ada 3 lagi teman bayu yang punya jadwal piket yang sama, namun tampaknya belum ada yang datang sebelum bayu bayu hanya menyapu kelas sendirian. Bayu yang sudah sekitar separuh menyapu kelas akhirnya selang bebarapa saat datanglah tedi, yulian dan sari yaitu teman piket bayu yang datangnya agak belakanga dari bayu. “ wah kamu sudah datang duluan bay, kami kira kami yang paling duluan datang” sapa yulian. Iya aku juga belum terlalu lama datang, aku sengaja datang lebih pagi karena hari ini ada jadwal piket, soalnya takut telat berhubung aku jalan kaki ke sekolah” kata bayu.”oh begitu maafkan kami ya bay, karena kami datangnya agak terlambat walaupun kami naik sepeda, jadinya kamu piket sediri duluan” kata yulian. Oh tidak apa-apa, ayo kita piket sekarang. “ayo!, jawab ketiga teman bayu serempak. Keemapat teman ini melaksanakan tugas mereka masing-masing ada yang menyapu, mengelap meja guru, mnyiram beberapa pot bunga yang ada di dalam kelas dan yang ada di depan kelas, dana da yang membersihkan papan tulis. Meeka mengerjakan tugas mereka dengan hati yang riang gembira dan tak terasa perkerjaan merekapun selasai dengan hasil yang bagus. Kelas yang tadinya berdebu dan kotor, sekarang menjadi bersih. Bunga yang tadinya kekeringan, kini tampak lebih segar karena telah di siram sari yang mendapat tugas menyiram bunga.
Ting...ting...ting  bel tanda masuk berbunyi semua siswa berkumpul di depan kelasnya masing-masing untuk berbaris, lalu di susul dengan bersalaman dengan guru yang akan masuk kekelasnya yang telah menunggu depan pintu. Memang di sekolah bayu sudah di biasakan sejak awal kalau budaya bersalaman sebelum masuk dan akan pulang selalu di lakukan agar siswa dapat terbiasa dengan kebiasaan baik tersebut. Sementara dikelas bayu guru yang akan masuk adalah pak Rahmat guru  Seni Budaya dan  Keterampilan (SBK) di sekolah bayu. Pak rahmat cukup dekat dengan semua murid-muridnya, tak terkecuali dengan bayu, Dalam beberapa minggu terakhir ini, bayu sering bersama dengan pak rahmat baik di jam pelajaran maupun diluar jam pelajaran karena satu minggu yang akan datang bayu akan mengikuti perlombaan aransemen lagu anak dengan alat musik gitar akustik tingkat provinsi se-Kalimantan Barat. Jadi pak rahmat bayak membimbing dan melatih bayu untuk mempersiapkannya mengikuti lomba tersebut. Bayu terpilih tidak hanya mewakili sekolahnya melainkan juga mewakili kecamatan untuk mengikuti lomba tersebut bersama beberapa orang siswa sd dari kecamatan lainnya. Jadi tidak heran kalau bayu cukup di sibukkan dengan latihan gitar dan aransemen lagu anak beberapa minggu ini.
Jam pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa keluar kelas dan langsung pulang kerumah. Namun tidak begitu dengan bayu ia harus menemui pak rahmat untuk latihan musik. Pak rahmat yang memang sejak tadi menunggu bayu di ruang musik, sambil menyetel gitar yang akan di pakai bayu untuk latihan. Tak lama kemudian bayu yang di tunggu akhirnya datang. Bayu memberi salam kepada guru musiknya itu, “assalamualaikum pak”, waalaikumsalam eh... bayu ayo masuk. Bayu yang tadinya berdiri di depan pintu akhirnya masuk dan segera mendekati pak rahmat. “ nah bayu tinggal seminggu lagi kamu akan mengikuti lomba di pontianak ibu kotanya kal-bar, kamu harus latiha dengan giat, jaga selalu kesehatanmu, dan jangan lupa selalu berdoa agar kamu diberikan kemenangan dalam lomab nanti”, pak rahmat memberikan nasihatnya kepada bayu. “iya pak bayu janji akan semakin rajin latihan agar bisa menang, bayu tidak mau mengecewakan bapak sebagai pelatih bayu, juga bayu ingin membawa nama baik sekolah kita di tingkat provinsi”, kata bayu dengan penuh semangat. “nah bapak senang mendengar semangatmu bay, sekarang ayo kamu mulai maikan lagu yang sudah kamu mainkan sebelumnya, nanti kalau ada yang kurang bapak akan memberikana masukan. “ iya pak, jawab bayu.
Sudah 2 jam latihan akhirnya pak rahmat meminta bayu agar berhenti untuk latihan karena permainan bayu juga sudah semakin bagus, “bay bapak rasa cukup disini dulu latihan kita untuk hari ini, bapak lihat permainan kamu juga sudah semakin membaik, kalau terus seperti ini sampai hari perlombaannya bapak punya keyakinan kamu bisa menang” puji pak rahmat kepada bayu, iya pak amin, bayu juga berharap demikian, oh ya pak bayu pamit pulang dulu pasti ibu sudah menunggu bayu di rumah soalnya tadi waktu mau berangkat sekolah bayu lupa kasi tahu ibu kalau bayu ada latihan musik bersama bapak, “ oh iya bay cepat sama kmau pulang, ibumu pasti khawatir karena kamu jam segini belum pulang”, timbal pak rahmat. Iya pak, assalamualaikum.....waalaikumsalam, balas pak rahmat
B
ayu beranjak meninggalkan sekolah dan kembali berjalan kaki menuju jalan yang mengarah ke rumahnya. Siang itu cuaca sangat panas dan lumayan menyengat tulang. Bayu   yang hanya mengenakan seragam sekolah dengan kemeja yang pendek tampak begitu kepanasan dan tentu saja membuat tubuhnya yang putih bercucuran keringat dari dahi dan lengannya. Bayu memang memilki kulit yang putih, rambut halus lurus dan hidung yang mancung bangir, mungkin keelokan wajah yang dimilikinya adalah turunan dari ibunya yang memang cantik dan putih, hanya ayah bayu saja yang menyia-nyiakan keelokan tersebut. Setelah cukup lama berjalan akhirnya sampai juga bayu ke rumahnya yang sederhana itu. Memang benar dugaan bayu, ibunya dari jauh sudah tampak duduk di ambang pintu menantikan kedatangan bayu dari sekolah, ibunya juga tampak menoleh ke kiri ke kanan untuk mendapatkan banyangan dari sosok bayu yaitu anak sekaligus teman hidup yanmg sangat di sanyangi nya itu. Bayu yang dari jauh sudah melihat ibunya yang sedang menunggu kedatanganya segera berlari cepat menghampiri wanita yang duduk di ambang pintu itu, “ assalamualaikum ibu bayu pulang, ibu sedang menunggu bayu ya ?” salam dan sapa bayu, eh bayu waalaikumsalam... iya ibu sedang menunggu kamu dari tadi, memangnya kamu kemana bay jam segini baru pulang ? bukannya biasa kamu pulang jam 11.30, ini sudah jam 13.40 apa yang kamu lakukan membuat ibu khawatir saja” bu bayu tampak panik. Iya bu maafan bayu sebnarnya tadi jam 11 bayu sudah pulang, tapi setelah pulang bayu langsung latihan musik bersama pak rahmat, sebelum berangkat sekolah bayu lupa mau kasih tahu ibu kalau bayu pulangnya agak telad, sekali lagi maafkan bayu ya bu. “ oh begitu rupanya, lain kali kamu harus beritahu ibu terlebih dahulu kalau pulang sekolah harus telad biar ibu tidak khawatir di rumah, oh ya kamu latihan musik untuk ikut lomba itu lagi bay? Tanya ibu bayu. Iya bu perlombaannya kan brlangsung minggu depan, jadi nanti bayu akan pergi ke potianak bersama pak rahmat guru bayu untuk mengikuti lomba tersebut, ibu tidak apa-apa kan kalau bayu tinggal sendirian dirumah? Tanya bayu, “ oh tidak apa-apa bay, ibu berdoa semoga kamu bisa menang di perlombaan musik nanti, berapa lama kamu disana bay?”.. tidak lana kog bu cuma 2 hari, bayu dan pak rahmat berangkatnya naik bis, dan disana kita akan menginap di hotel, kayak tempat orang-orang kaya menginap bu hehehe... kata pak rahmat begitu bu”, gurau bayu. Ibu bayu yang sejak tadi mendengarkan celoteh bayu hanya tetawa kecil melihat gelagat anaknya yang bercerita dengan semangat, “iya deh semoga saja nanti disana kamu bisa  senang dan bisa memberikan penampilan terbaik kamu bay, kamu bisa mewakili sekolah dan provinsi saja ibu sudah bangga sama kamu, apalagi kalau kamu bisa menan ibu pasti makin tambah bangga, tapi kamu harus rajin latihan dan berdoa kepada Allah agar kamu bisa di berikan hasil yang terbaik” nasihat ibu bayu, aminnnn...sambung bayu.
S
etiap hari bayu selalu manghabiskan waktunya untuk belajar, membantu ibunya, dan rajin latihan musik demi menggikuti perlombaan tersebut. Bayu yang tak pernah mengeluh akan kondisi keluarganya yang seang dalam kesempitan uang, malah ia selalu menyempatkan diri mengambil sayur tak brtuan di belukar. Sayur pakis memang sayur yang tak ad pemilik nya, sebab ia bisa tumbuh tanpa ditanam dan dirawat oleh manusia, ia mampu bersahabat dengan alam karena alamlah yang memeliharanya, sementara manusia hanya bisa mengambil hasilnya saja. Hari ini sepulang sekolah bayutidak ada latihan musik, karena berhubung pak rahmat sdang mengikuti rapat dewan guruyang di adakan oleh dinas kabupaten jadi bayu bisa pulang lansung kerumah seelah jam pelajaran usai. Bayu dan ibunya berencana untuk mengambil pakis bersama. Cuaca di siang itu tidak seperti biasanya yang panas terik mencapai suhu 35o celsius, tapi matahari tampak diselimuti awan yang berarak mendung dan adanya tanda-tanda mau hujan. Hal ini adalah kesempatan baik buat bayu dan ibunya untuk bisa mengambil pakis, karena jika kondisi cuaca seperti ini aka sangat baik untuk mengambil pakis agar tidak panas juga tidak hujan. Ibu bayu yang sajak tadi sudah berkemas menyiapkan segala perlengkapan untuk mencari pakis seperti ragak untu menampung, tali rafia untuk mengikat pakis dan bekal air minum untuk mereka jika sedang kehausan selama mencari pakis. Selesai menyiapkan segala perlengkapan bayu dan ibunya segera berangkat menuju bulukar tempat pakis tumbuh. Mereka berjalan kaki untuk dapat pergi kesana. Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam untuk dapat sampai ke tempat tersebut. Dalam perjalanan bayu asyik bercerita dengan ibunya. Banyak hal yang mereka ceritakan mulai dari masa kecil bayu hingga. Bayu yang banyak bertanya pada ibunya bagaimana ia waktu kecil yang sangat membuat orang lain merasa senang apabia bayu kecil baru belajar bicara karena selain kata-katanya yang belum jelas, juga bayu kecil termasuk anak yang sehat dan sangat suka bermain mobil-mobilan. Mendengar mobil-mobilan bayu teringat ayahnya yang dulu sering membelikannya mobilan. Namun ia juga tidak mau mengingat-ingat kembali hal tersebut karena akan menyakiti hati ibunya, mengingat perlakuan ayahnya yang tega mengkhianati cinta suci ibunya. Walau masih kecil,  tapi bayu sangat mengerti perasaan ibunya maka dari pada itu bayu tak mau bertanya yang macam-macam mengenai ayahnya kepada ibunya.
            Susdah beberapa lama berjalan tidaka terasa temapt mereka akan mengambil pakis sudah tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meter dari tempat mereka berdiri. Jelas sudah terdengar nyayian burung punyuh yang berterbangan melintasi anak sungai dan membuat sarang di semak-semak juga di padang pakis yang menghampar luas. Angin yang bertiup sepoi-sepoi membawa keteduhan jiwa dan kedamaian yang mungkin belum didapat di tempatlainnya. Disinilah bayu dan ibunya mengais rezeki menggali nikmat Tuhan yang telah di tebarkan oleh malaikatNya bagi hamba yang rajin berusaha dan tak mengenal lelah maupun menyerah untuk selalu mensyukuri rahmat yang telah Allah berikan. Tak jarang ibu bayu menangis dikala menikmati keindahan alam yang telah Allah ciptakan, walau dari mata manusia hanyalah belukar yang tak terawat dan tak terpelihara, namun didalamnnya terdapat rezeki yang bayak dan tak mungkin dapat dihitung oleh akal manusia jumlah rezeki yang telah Allah limpahkan. Tangisan ibu bayu bukanlah sebuah ratapan akan nasib yang mereka alami, melainkan ratapam rasa syukur karena diberikan karunia yang tak ada hentinya. Mensyukuri hal sederhana adalah bagian dari rasa syukur kita kepada Allah, begitulah yang sering ibu bayu katakan kepada mutiara hatinya, belahan jianya itu.
            Berjalan selama setengah jam lebih tak membuat bayu dan ibunya merasa keletihan. Melaikan semangat yang semakin besar ketika melihat tumbuhan pakis yang menghijau di padang belukar kala itu. Tanpa membuang waktu bayu dan ibunya segara memulai aksinya untuk memeti satu persatu tangkai pakis muda. Bayu yang memang sudah cekatan mengambil pakis ternyata kecepatannya menyamai ibunya. Walau masih kecil bayu mampu memetik pakis seperti layaknya orang tua yang sudah berpengalaman. Yah memang itulah bayu, ia dibentuk untuk jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Inilah yang membuat ibunya selalu bangga pada bayu. Meski memiliki anak yang cejkatan mengambil pakis dan rajin membantu ibunya menjual pakis, namun bukan itu cita-cita ibu bayu. Ia ingin bayu berhasil menjadi manusia, ia ingin bayu sekolah setnggi-tinnginya dan bisa menjadi sarjana, agar kelak dia dewasa dapat bermanfaat bagi orang banyak. Semoga keinginan wanita yang memiliki hati bersih ini dapat terwujud untuk menjadikan bayu sarjana, aminnn.
Bayu Berangkat ke Pontianak Untuk Mengikuti Perlombaan
Hari-hari berlalu, bayu semakin mantap dengan keampuan bermain musiknya. Berkat bimbingan pak rahmat guru SBK sekaligus tutor musik bayu, membuat anak yang dijuliki teman-temannya anak pakis karena keuletannya mencari pakis ini, akhirnya semakin memiliki rasa prcaya diri yang tinggi namun itu tidaklah menjadikan bayu sombong, melainkan semakin ramah dan sopan terhadap guru dan teman-temannya. Hanya menunggu 24 jam lagi bayu akan berangkat ke pontianak untuk mengikuti perlombaan yang telah dinanti-nantikannya itu. Tak seperti hari-hari biasanya dimana bayu selalu mengisi waktunya dengan latihan bersama tutor dan gitarnya, namun satu hari sebelum menjelang keberangkatan bayu tidak melakukan latiha bersama pak rahmat lagi, karena bayu di sarankan oleh pak rahmat untuk beristirahat saja, agar esok ketika berangkat kondisi bayu bisa tampil fresh dan bersemangat. Kesempatan ini di manfaatkan bayu untuk take rest dan mengemas pakaian yang akan di bawanya besok. Dalam mengemas pakaian bayu di bantu ibunya dalam memilih pakaian mana yang akan di bawa esok hari. “bay berapa banyak pakaian yang akan kamu bawa biar ibu yang memasukannya dalam tas ?” tanya ibu bayu. Tidak bayak bu, pak rahmat menyuruh bayu untuk membawa pakaian seperlunya saja agar tidak kewalahan membawanya, kata bayu. “ begitukah, baiklah kalau begitu kamu cukup membawa 3 pasang baju saja, ditambah 1 pasang lagi dengan pakaian yang kamu pakai untuk berangkat esok pagi” kata ibu bayu. Baiklah bu, besok bayu mau pakai kemeja biru yang ibu belikan waktu lebaran idulfitri kamaren, “iya” jawab ibunya.
            Pagi menjelang, matahari yang elok mulai membuka tabirnya, burung layang kini kembali kesarangnya. Bayu yang seja azan subuh sudah bangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat wajib bagi umat islam bessama tidurnya, sudah tidak tidak tidur lagi karena takut kesiangan. Bayu berjanji dengan pak rahmat untuk bertemu di sekolah jam tujuh pagi. Sekarang jarum jam sudah berdenteng di angka 06.30. pagi ini ibu bayu akan mengantar bayu ke sekolah untuk memnemui pak rahmat, ibunya sengaja mengantar kepergian bayu karena akan tidak berjumpa selama dua hari. Pemandangan sekolah seperti biasanya, siswa belum masuk kelas karena jam juga belum menunjukan pukul tujuh, bayu datang lebih awal untuk menemui pak rahmat bersama ibunya. Pak rahamt yang sejak tadi juga sudah menunggu bayu di ruang guru dengan membawa gitar disampingnya. Bayu memberi salam kepada pak rahmat, “assalamualaikum pak”, oh waalaikumsalam, wah kamu ganteng pakai kmeja biru itu bay” puji pak rahmat. Bayu hanya tersenyum malu mendengar pujian gurunya itu dan ibu bayu juga ikut tersenyum. “ bay apa kamu sudah siap untuk berangkat?” tanya pak  rahmat. Saya siap pak jawab bayu mantap. “ kalau begitu kita berangkat sekarang, ibu saya izin dulu untuk membawa bayu ya, saya akan menjaga bayu selama di sana hingga kembali berkumpul bersama ibu”kata pak rahmat sambil meminta izin kepada ibu bayu. “ iya pak, tolong jaga bayu selama di sana ya pak, kalalau dia nakal dimarah saja” kata ibu bayu sambil tersenyum. Akhirnya bayu dan pak rahmat pun berangkat tidak lupa bayu  bersalaman mencium tangan ibunya dan ibunya memberikan ciuman kasih sayang di kening bayu sambil memeluk tubuh bayu. Kepala sekolah yang juga da di situ turut menyalami bayu dan mengucapkan selamat berjuang kepada bayu, selain kepala sekolah ada juga beberapa guru turut menyalami bayu.
            Brummm...suara motor pak rahmat sudah melaju meninggalkan sekolah melwati perumahan, pepohonan yang menghiasi pemandangan di desa bayu. Burun-burung yang bermain atas pepohonan turut menghiasi keasrian akan desa bayu yang maih ramah lingkunan. Perjalanan menggunakan sepeda motor hanya memakan waktu selama 15 menit untuk menuju terminal tempat bis yang akan membawa penumpang ke kota pontianak. Tak terasa bayu dan pak rahmat kini telah sampai di terminal. Pak rahmat menitipkan motornya, kebetulan dia memiliki keluarga di sekitar terminl, jadi motor pak rahmat bisa aman di tempat keluarganya itu. Pak rahmat mengajak bayu untuk segera memasuku bis yang akan mereka tumpangi, kbetulan penumpang dalam bis terebut belum terlalu ramai, sehingga bayu dan pak rahmat dapat memilih tempat duduk dengan leluasa. Kursi depan adalah pilihan pak rahmat dan bayu, karena kata pak rahmat kalau duduk dibarisan depat akan menghidarkan kita agar tidak pusing atau mabuk selama dalam perjalanan. Bis yang ditumpangi bayu masih belum bergerak karena masih menunggu penumpang lainnya. Karena masih menunggu bis berjalan pak rahmat memutuskan untuk turun dari bis sebentar kamu jangan kemana-mana ya. “bay kamu tunggu bapak disini sebentar ya, pbapk mau turun untuk membeli kue dan permen agar dalam perjalanan nanti kita bisa ngemil” kata pak rahmat. “ baik pak, bayu akan menunggu bapak disini” balas bayu. Agak lama juga pak rahmat turun dari bis namun belum kembali, sementar supir bis sudah duduk di kursinya untuk segera jalan karena penumpang sudah penuh. Bayu jadi khawatir dengan pak rahmat yang belum kembal, sementara bayu menoleh dari kaca jendela namun pak rahmat tidak terlihat. Akhirnya bayu memberanikan diri kepada supir bus untuk menunggu pak rahmat “ pak guru saya masih belum naikm bis tadi katanya mau beli kue , bisakah bapak menunggunya sebentar” kat bayu dengan agak gugup. “ baiklah dek tapi kalau terlalu lam kasian penumpang yang lain harus menunggu” kata supir bus. Lima menit berlalu bayu semakin khawatir dengan pak rahmat. Dari jauh sopion bus terlihat pak rahmat tampak tergesa-gesa untuk menaiki bus. “wah itu guru saya pak” kat bayu kepada supir bus, “oh iya”, jawab supir bus singkat. Pak rahmat segera naik ke dalam bus dan menduduki kursinya,” bay sudah lam menunggu ya, tadi ramai orang diwarung jadi bapak terpaksa antri nuntuk membayar kuenya, nah ini kuenya nanti kalau kamu para kamu makan saja”, kta pak rahmat dengan nafas agak terengah-engah.” Ia pak, terima kasih”, kata bayu. Dan pak rahmat juga meminta maaf kepada supir bus karena telah menunggu “ maafkan saya pak karena gara-gara saya penumpang terpaksa menunggu lama” kata pak rahmat kepada supir bus. “iya pak tidak apa-apa” jawab supir bus. Bus yang bayu tumpangi akhirnya bergerak meninggalkan terminal dengan perlahan, namun semakin jauh dari terminal pak supir menambah kecepatannya, hingga terminal sudah tak tampak lagi. Perjalanan ke pontianak memakan waktu sekitar enam jam, jadi bayu dan penumpang lainnya bisa tidur untuk melepas penat duduk dikursi yang akan memakan waktu berjam-jam nantinya.
            Tak terasa ternyata perjalanan sudah hampir dua jam. Bayu yang sejak tadi masih segar saja. Ia sesekali memperhatikan penumpang yang berada di bangku barisan belakang, ada yang sudah tertidur lelap bahkan ada beberapa penumpang terlihat muntah-muntah karena masuk angin. Untung saja bayu tidak masuk angin dan kini ia merasa lapar lalu memakan kue-kue yang dibelikan pak rahmat sambil memperhatikan pemandangan yang dilewatinya dari jendela kaca bus. Sementara pak rahmat tampaknya sudah terlelap dan bersandar dikursi yang didudukinya. Ini memang pengalaman pertama bayu menaiki bus dan yan pertama kalinya juga ia ke kota pontianak. Pak supir yang tamapknya sangat lihai membawa bus membuat bayu menjadi kagum. Belokan-belokan tajam dilewatinya dengan mulus dan yang terpenting adalah dapat membawa penumpang bus elamat sampai tujuan mereka masing-masing.
            Beberapa kota telah dilalui bus yang ditumpangi bayu antaranya sambas, singkawang, mempawah dan kini bayu telah memasuki kota pontianak. Namun tampaknya bayu sangat kelelahan sehingga ia juga terlelap seperti penumpang lainnya. Namun i sebelah bayu yaitu pak rahmat sudah bangun sejak tadi. Memasuki kota pontianak pak rahmat segera membangunkan bayu karena ingin memperlihatkan kepadanya keelokan kota pontianak. Bayaknya gedung-gedung bertingkat, jembatan kapuas yang melintangi sungai kapuas yang dikenal sungai terpanjang di indonesia dan banyak lagi pemandangan lainnya. Bayu hanya tertegun melihat pemandangan itu dan dalamhatinya juga berdecak kagum akan keindahan kota yang saat ini di datanginya itu.
Pak rahmat meminta supir bus untuk diberhentikan di terminal tidak jauh dari hotel garuda pontianak, karena rencananya pak rahmat dan bayu akan menginap di hotel tersebut. Kini bayu dan pak rahmat telah turun dari bus tidak lupa membanyar ongkos yang diberikan pak rahmat kepada kenek bus. Sebelum melanjutkan perjalanan ke hotel pak rahmat mengajak bayu untuk duduk sebentar di terminal karena mungkin terlalu lama duduk jadi agak kepenatan. Bayu hanya menurut saja. Tiba-tiba saja mata bayu tertuju pada seorang polisoi lengkap dengan seragam coklatnya tampak sedang berdiri mengawasi jalannya lalu lintas di perempatan jalan tanjung pura. Tapi setelah lama mengamati bayu menjda heran kenapa pak polisinya tidak bergerak sama sekali dan hanya berdiri dalam keadaan istirahat dengan tangan dikepal dibelakang. Bayu menjadi penasaran dan ditayakannya persoalan tersebut kepada pak rahmat yang sedang duduk bersandar di terminal. “ pak bapak lihat polisi yang sedang berdiri diperempatan jalan disana, kenapa ia hanya berdiri saja, padahal ada motor yang berhenti di depan garis marka? Kenapa ia tidak meniupkan peluitnya? Padahal itukan sudah melanggar peraturan lalu lintas dan pak polisi itu hanya melihat saja ?” tanya bayu penuh penasaran. “ hahahahahaha......kamu lucu sekali bay” pak rahmat ketawa terbahak-bahak, namun bayu sama sekali tidak mengerti apayang membuta pak rahmat tertawa begitu terbahak-bahak hingga ada orang di terminal yang sempat melirik. “ pak apa yang bapak ketawakan,bayu tidak mengerti” tanya bayu lagi. “ hemm maafkan bapak bay, bukan maksud bapak buat tertawakan kamu, tapi kamu lucu sekali, coba deh kamu perhatikan beul polisi yang berdiri itu, dari polisi itu dibuat dia memang tidak pernah bergerak sedikitpun, karena dia bukanlah polisi beneran tapi hanya patung polisi yang dang didirikan disitu, itu adalah ikon kota” pak rahmat menjelaskan dengan panjang lebar dan sedikit menahan seyumnya. Oh begitu ya pak, pantas saja tadi bapak tertawa begitu terbahak teryata emang bayu yang terlalu polos hehe( jawab bayu dengan terseyum malu). “ya sudah bay sekarang kita akan menuju hotel garuda yang ada dibelakang polisi itu kita akan menginap disana, ayo kita berangkat” ajak pak rahmat kepada bayu. “ ayo pak” sambung bayu.
Bayu dan pak rahmat mulai berjalan dari terminal menuju hotel dengan berjalan kaki karena jarak antara terminal dan hotel hanya kurang lebih 100 meter. Pak rahmat mengenggam tangan bayu melintasi kedaraan yang sangat padat karena anak kecil haru selalu dalam bimbingan orang tua ketika melintas di jalan raya. Tak lama berjalan akhirnya pak rahmat dan bayu ssegera masuk ke hotel. Pak rahmat meminta bayu untuk duduk sebentar di kursi lobi hotel, sementara pak rahmat menemui recepsionis untuk melakukan check in. Haya 2 menit saja pak rahamat kembali mengajak bayu untuk menuju kamar yang kan mereka tempati selama dua malam. “ bay sekarang kita kan ke kamar tenpat kita menginap” kata pak rahmat. “iya pak, oh ya pak bayu perhatikan dari tadi bayak sekali orang yang lalu lalang disini, apakah mereka tamu hotel semua pak?” tanya bayu. “ oh iya bay, tapi ada juga yang merupakan pegawai atau kayawan di hotel ini”, kata pak rahmat.
Akhirnya pak rahmat dan bayu sampai ke kamar hotel yang akan mereka tempati. Mereka langsung mandi untuk membersihkan tubuh dan menyegarkan tubuh. Pak rahmat mengajak bayu untuk berkeliling kota pontianak. Mereka menggunakan angkutan kota. Banyak tempat yang didatangi bayu dan pak rahmat diantaranya museum kalbar yang terletak di jalan Ahmad Yani. Pak rahmat sengaja mengajak bayu ke museum, untuk mengenlkan peninggalan-peninggalan sejarah dari kalimantan barat. Bayu semakin kagum melihat begitu banyaknya peningglansejarah yang ada. Selama ini ia hanya melihat dibuki atau di telivisi saja, tapi sekarang ia melihat wujud asli dari benda-benda bersejarah itu. Berhubung hari sudah mulai gelap pak rahmat mengajak bayu untuk kembali ke hotel untuk beristirahat karena esok pagi adalah hari yang telah ditunggu-tunggu untuk mengikuti perlombaan itu. Perlombaan bertempat di taman budaya kalimantan barat. Nah di situlah bayu kan menunjukan kebolehannya dalam memetik gitar kepada para juri dan tentunya kepda pengunjuung taman budaya kal bar.
Pagi ini bayu dibagunkan oleh pak rahmat untuk solat subuh. Usai solat bayu bayu langsung mengambil gitar yang sudah di bawakan pak rahmat untuknya. Bayu hanya melakukan pemnasan-pemansan dengan jari jemarinya agar tidak kaku saat perlombaan nanti. “ bay kamu jangn latihan yang terlalu berat ya, nanti selesai latiah kamu segera mandi dan nati kenakan baju yang bapak telah belikan untukmu, nah ini bajunya” pak rahmat memperlihatkan sepasang jas bewarna hitam dengan celana kain pas untuk ukuran bayu di lengkapi dengan dasi pita bewarna biru. “ ini untuk bayu pak, bagus sekali terima kasih ya pak”. Iya sama-sama” jawab pak rahmat. Bayu langsung mandi kemudian memakai jas yang deiberikan pak rahmat untuknya. Bayu tampak sangat tampan mengenakan jas tersebut, kulitnya yang putih dan rambutnya yang lurus pendek semakin pas dengan apa yang dikenakannya.
Sepuluh menit perjalanan dari hotel ke tempat perlombaan yaitu taman budaya. Pak rahmat dan bayu memakai taksi untuk pergi ketempat perlombaan. Sampai  di taman budaya teryata tlah bayk orang yang hadir disana. Mereka yang mnegikuti perlombaan memakai pakaian yang bagus-bagus. Namun bayu tidak kalah bagus dengan mereka karena jas yang dberikan pak rahmat untuknya cukup membuat bayu tampak rapi dan ganteng. “ nah bay ini adalah taman buda, sekarang ayo kita masuk dan mencari tempat duduk” kara pak rahmat. “baik pak”, jawab bayu. Pak rahmat mengajak bayu duduk di barisan paling depan, semntar gita yang dibawa pak rahmat disimpan dismpingnya. Kebetulan disitu juga ada teman pak rahmat di kota yang juga merupakn seorang guru musik sedang membawa anak seusia bayu yang juga ingin mengikuti perlombaan. Anak itu bernama Bagas dan anaknya sangat ramah bahkan mengajak bayu kenalan. “ halo namu kamu siapa aku bagas, dengan logat jawanya, karena bagas merupakan keturunan jawa bekasi”, sapa bagas kepada bayu. “ nama ku bayu, aku mwakili kabupaten samabas, kalau kamu?” taya beyu kembali. “ aku mewakili kabupaten pontianak, senang bertemu dengan mu bayu. “ iya aku juga” jawab bayu.
Pembawa acara telah memulai acara perlomabaan. Bayu mendapat undi nomor tiga sementara bagas mendaat undi nomor lima. Tangan bayu terasa dingin jantung degdegan, pak rahmat yang mengerti kodisi bayu dan menenangkan bayu, “bay kamu tenang saja, kamu pasti bisa anggap saja peninton yang ada disini adalah teman-temanmu yang inguin menyaksikan penampilan terbaikmu” nasihat pakrahmat. “ iya pak doakan bayu”. “Sekarang kita panggil undi nomor tiga atas nama bayu putra permana untuk naik keatas panggung, beri tepuk tanyan yang meriah” pembawa acara memnggil nama bayu”, bayu langsung naik kepanggung dan membawa gitarnya. “ selamat pagi para juri dan selamat pagi juga saya ucapkan kepada para penonton, semoga anda terhibur” pembukaan dari bayu.
Bayu mulai memetik gitarnya, yang memainkan beberapa lagu yang dikombinasi dengan aransemen  yang sangat indah, sehingga membuat penonto tak ingi bersuara sedikitmu karena ingin selalu mendengar suara gitar bayu samapai lagu berakhir. Tepuk tangan penonton menggemparkan seisi ruangan. Bayu tersenyum dan memberikan salam hormat kepada seluruh penonton. Pak rahmat sampai berdiri untuk memberikan tepuk tangan kepada bayu muridnya sekaligus sudah dianggapnya anak sendiri yang sudah meberikan penampilan terbaiknya. Bayu kmbali duduk disamping pak rahmat, “wah bay permainanmu tadi sangat bagus,bapak bangga denganmu” puji pak rahmat. “ terima kasih pak tapi bayu kan belum menang, jadi kita tunggu sampai pengumumannya baru deh bapak puji bayu” goda bayu. Satu persatu peserta telah tempil begitu dengan dengan bagas teman baru bayu, ia juga main dengan baik dimana jmlah peserta semuanya ada 20 peserta dari . Sampai akhirnya pada acara terakhir yaitu pengumuman hasil perlombaan. Semua peserta tampak begitu degdegan karena berharap dapat pulang untuk menjadi pemenang. Begitu juga dengan bayu iya hanya bia berdoa kepada Tuhan agar diberikannkesmpatan untuk menjadi pemenang. “penonton inilah saat yang kita tunggu-tunggu , saya akan membacakan juara dari perlombaan ini, saya akan mulai dari juara ketiga yang di raih oleh doni abdullah no peserta 15, juara ke dua di raih oleh bagas saputra no undi 5. “ selamat ya gas kamu berhasil mendpat juara dua” bayu mengulurkan tangna tanda selamatnya. “iya sama-sama bayu, semoga kamu bisa juara satu” balas bagas. “ damn penonton yang mendapat juara pertama serta memperoleh unag tunai sebesar satu juta rupiah adalah bayu putra permana dengan nomor urut 3”, pak rahmat segera memluk bayu dan menagis bahagia, bayu masih diam tak percaya kalau nama yang barusan di panggil adalah dirinya. “bay kamu juara satu bay, selamat ya bayu” kata pak rahmat “ haa aku menang, hanya menudukan kepla kepada juru dan penonton yang memberikannya selamat atas kemenangannya. Tidak terkeculai bags yang harus menerima juara kedua dibawah bayu, “selamat bay, kamu pantas mendapatkannya,aku salut dengan permainanmu yang melebihi gitaris-gitari terkenal indonesia”, puji bagas. “terima kasih bagas, kamu juga bermain dengan bagus sekali” balas bayu.
Bayu pulang dengan membawa kemenangan. Bayu sangat berterima kasih dengan pak rahmat yang merupakan pelatih sekaligus gurunya, “ bayu sangat berterima kasih kepada bapak, tanpa bapak bayu tidak akan mendapatkan kemenangan ini” kata bayu, “ iya bay, ini juga berkat kerja kerasmu, kamu memang sudah sangat berbakat, bapak hanya memberikan sedikit bimbingan, berterima kasihlah kepada Allah juga ibumu yang telah melahirkan anak cerdas sepertimu”,  jelas pak rahmat dengan seyuman. “iya bapak benar, nanti sampai rumah aku akan mengucap terimakasih pada ibu”, balas bayu.
Esok harinya bayu dan pak rahmat kembali ke kampung halaman di desa teluk keramat. Bayu yang baru dua hari meninggalkan rumah sudah sangat merindukan ibunya, begitu juga ibunya selama ini mereka memang tidak pernah selama dua hari jadi wajar aja kalau ibu bayu juga sangat merindukan putra semata wayangnya itu. Pagi-pagi sekali bayu dan [pak rahmat sudah menunggu bis diterminal dekat dengan hotel tempatmereka menginap tepatnya terminal tempat mereka berhenti dari bus dua hari yang lalu. Tidak lama menunggu bus yang akan diaiki akhirnya datang. Kali ini hanya
Hanya menghabiskan waktu lima jam dalam perjalanan akhirnya sampai juga bayu dan pak rahmat ke terminal teluk keramat. Pak rahmat kembali mengambil motor di rumah keluarganya tempat ia menitipkan motorny dahulu. “pak bayu sudah tidak sabar untuk bertemu ibu dan teman-teman bayu, bayu merindukan mereka pak, rasanya baru dua hari berpisang tapi bagaikan sudah dua minggu saja” kata bayu. “ kamu sabar aja bay, sebentar lagi kita juga bakalan bertemu mereka, nah ayo naik( pak rahmat sudah menghidupkan motornya)”, iya pak, jawab bayu.

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba bayu diantar pak rahmat sampai rumah. Ibu bayu telah menyambut putranya dan pak rahmat i depan pintu. Bayu menyampaikan kabar bahagianya kepada ibunya kalau dia memenangkan perlombaan itu, bu bayu berhasil menang juara satu perlombaan” kata bayu. “ (ibu bayu terkejut dan memluk bayu dengan bahagianya) syukur ahlamdulillah, kamu berhasil bay”, kata ibu bayu sambil tersenyum. “iya bu, ini semua berkat doa ibu dan juga kesabaran pak rahmat yang telah membimbing bayu (bayu menoleh pak ramat yang berada di belakangnya) pak rahmat hanya terseyum mendengar pujian dari bayu. “ pak terima kasih telah membimbing bayu selama ini, kata ibu bayu kepada pak rahmat”, oh iya sama-sama bu itu memang tugas saya”. Pak rahmat menyerahkan amplop kepada ibu bayu yang berisi uang tunai Rp. 1 juta hadiah atas kemenangan bayu, “ bu ini uang bayu dari hadiah perlombaan itu, mungkin berguna buat bayu melanjutkannsekolah nantinya”, kata pak rahmat. “ benarkah...terima kasih banyak pak”. “ iya sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang dulu”, opak rahmat meningga;lkan bayu dan ibunya dan segera menaiki sepeda motornya. “ wah bay ini uangmu, kamu mau beli apa?”, tanya ibu bayu kepada bayu, “ ibu simpan aja bu, kalau ada keperluan mendadak  baru diambil, bayu tidak mau beli apa-apa  koq” jelasbayu dengan seyim dibibirnya. “ oh baiklah mungkin benar kat pak rahmat tadi, uang ini bisa dipakai untuk keperluan sekolahmu bay”, kat bu bayu sambil terseyum melihat sikap bayu yang sama sekali tidak merasa ingin menggunakan uang tersebut dengan hal lain selain sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar